Air Mata Kunthi
Sumber Gambar : https://penyaringteh.files.wordpress.com/2012/12/dewi-kunthi.jpg

Tinggal tangis yang menjadi  saksi atas cinta. Cinta ibu

pada seorang lelaki yang terlahir,

sebagai wujud

persetubuhannya dengan Sang Surya.

 

Perang telah usai,

namun kesedihan dan penyesalan baru saja dinyalakan.

:mengapa dunia ini haruslah penuh dengan pertimbangan.

 Mengapa.

 

Putranya  direlakan hanyut dalam alir sungai demi membela kehormatan dan martabat.

Putranya direlakan hidup tanpa tahta dan kehormatannya.

 

Kunthi  terdiam. Ditatap muka anak sulungnya  yang terbunuh oleh panah  anak bungsunya.

Diingat-ingat betul janji putranya,

               ibu, aku tak akan membatalkan perang. Tak akan aku kurangi jumlah putramu yang lima.

              Perang ini hanyalah wujud kesetiaanku pada negara.

 

Air mata Kunthi mengalir. Sama derasnya dengan darah yang keluar dari batang leher anak sulungnya.

Hati seolah terbilah peristiwa yang tanjam dan runcing, seperti panah yang memisahkan jiwa dari raga putranya.

 

Dari celah mulut yang tipis, suara yang bersembunyi berabad-abad

tiba-tiba saja  keluar berlumur kesedihan:

:Anakku. 

Kelahiranmu telah memenangkan kebimbangan,

Kematianmu telah menegurku, tentang kesetiaan.

 

Tanah bratayuda,  lenggang dan sunyi

Sedangkan gemuruh peristiwa menyesakkan dada Kunthi.

Air matanya menumbuhkan perasaan yang telah lama terkubur

begitu melihat semburat senyum tipis dari bibir anak sulungya,

air matanya menjelma alir sungai yang menghanyutkan jiwa putranya

ke Nirvana.

 

di tanah itu seorang anak telah mendapatkan ibunya,

di tanah itu seorang ibu kehilangan anaknya.

 

Kulonprogo  2013

Beriklan Disini Beriklan Disini