Bukan Sekedar Perempuan, tapi Per-empu-an
Sumber Gambar : Loekisan Wanita Djawa

Sejak sore tadi putri Gus Wo, Astuti menangis ndak karuan. Badannya panas pun tidak, makan pun dia lahap. Namun entah kenapa Astuti menangis terus hingga malam selarut ini. Yu Wi, istri Gus Wo juga kebingungan. Ditimang-timang, di elus-elus, dipuk-puk pun tak kunjung meredakan tangisnya, malah semakin menjadi.

Astuti

Riuh tangisan Astuti pun akhirnya mengundang Mbah Mun, lelaki tua dan yang dituakan di kampung itu. Mbah Mun menengok sabab penasaran. Mbah Mun datang, ber-kulanuwun,

"Ada apa to ngger? Kok genduk (panggilan jawa anak perempuan) nangis terus dari tadi?" Tanya Mbah Mun.

"Ndak tahu ini mbah, dari sore tadi Astuti nangis ndak kunjung lerem (reda)" Jawab Gus Wo.

Seketika Mbah Mun mengambil Astuti dari gendongan Yu Wi. Kepalanya di elus-elus dan ditimang-timang. Astuti belum juga meredakan rengek tangisannya. Tiba-tiba Mbah Mun rengeng-rengeng menyanyikan lagu jawa dengan suara khas simbah-simbah jaman dulu.

Tak lelo, lelo lelo ledhung

putuku aja pijer nangis

putuku sing ayu rupane

yen nangis, ndak ilang ayune

tak gadhang bisa urip mulya,

dadiya, gadis kang ngumbara

Ditengah nyanyian Mbah Mun, tangis Astuti makin mereda dan akhirnya tidur pulas. Namun di akhir nyanyiannya, tiba-tiba Gus Wo nyeletup,

"Setahu saya sair tembang lelo ledhung 'dadiya wanita utama' mbah, bukan 'dadiya gadis kang ngumbara'?".

"Ini Astuti gek ditidurkan, sudah larut. Bahkan lebih larut daripada malam Yu" Perintah Mbah Mun.

Yu Wi pun segera ke kamar, menidurkan Astuti. Sementara itu Gus Wo menyuguhkan wedangan (minuman), menemani Mbah Mun di teras joglo Gus Wo. Sambil menyalakan rokok lintingan, Mbah Mun tiba-tiba bicara

"Wong wadon atau wanita itu ada tingkatannya, Gus".

"Maksudnya Mbah?" Tanya Gus Wo.

"Lha kamu tadi bilang kok syair nya gadis bukan wanita gitu to?".

"Iya Mbah, lha kok gadis? Syaire itu setahuku dadiya wanita utomo je".

"Sebutan wanita ada banyak Gus, putri, gadis, wanita, perempuan, lan sak piturute (dll). Seiring jaman juga ada lagi, misalnya cewek. Dan masing-masing sebutan itu mempunyai arti dan latar belakang sejarah sendiri.”

Mbah Mun melanjutkan pidato kebudayaannya. Beliau lantas menjlentrehkan (menjabarkan) khasanah kata perempuan.

“Putri atau pun gadis itu ndak mungkin bayangan kita sudah berumah tangga. Pasti pikiran kita anak muda, baik muda secara umur maupun cara pandang muda sebagai 'masih bebas' dan penuh 'kebebasan'.”.

Layaknya perempuan dan wanita, mereka dua idiom yang merujuk pada hal yang sama, namun mempunyai latar belakang sejarah, cara pandang yang berbeda. Di dalam kata perempuan ada kata empu, per'empu'an, yang berarti seorang yang memiliki ilmu tinggi, derajat dan ke-waskita-an yang linuwih.

Namun seiring jaman makna itu bergeser. Perempuan hanya sebatas penjaga rumah yang dinilai remeh.

"Lha kalau wanita Mbah?" Celetup Gus Wo.

Wanita -mbah Mun melanjutkan,- itu mempunyai latar belakang sejarah dari Jawa. Wanito, wani ditoto lan yo wani noto, (berani untuk ditata dan juga berani untuk menata). Sebenarnya perempuan dan wanita memiliki pemaknaan yang nyambung.

Wanita atau perempuan untuk ‘di’ dan ‘me’nata harus memerlukan ke-waskita-an (wawasan) yang lebih sehingga hasilnya berupa kedewasaan. Baik kedewasaan mental, spiritual, emosional, maupun lahiriyah yang diperoleh dengan berproses dimasa gadisnya. Bisa melalui pendidikan yang tinggi maupun sekedar melakoni rutinitas sewajarnya namun dengan penuh prinsip dan iso rumekso (memposisikan diri) terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebab, tolak ukur itulah seorang gadis, putri, cewek bertransformasi menjadi seorang wanita atupun perempuan. Maka pencapaian minimal seorang wanita adalah istri. Dari bahasa sanskerta, strī. Yang artinya perempuan/wanita, yang sudah menikah. Dimana kedewasaan dan kewaskitaan-nya itu untuk mau ditata (oleh suaminya) dan menata keluarganya.

Juga tidak menutup kemungkinan menjadi tokoh layaknya Kartini dan Nyi Ageng Serang. Mereka menata, jadi sebutannya pahlawan wanita, buka pahlawan perempuan. Emansipasi wanita, bukan emansipasi perempuan. Panjang lebar pidato mbah Mun disimak gus Wo sungguh-sungguh.

“Jadi Gus, didik yang bener gendukmu itu, ben migunani tumraping liyan (berguna bagi sesama)” jawil mbah Mun mencoba mencairkan suasana.

Begitulah kira-kira pengetahuan orang Jawa disalurkan sekaligus ditransformasikan. Tokoh yang dituakan selalu menjadi tempat ngangsu kawruh (menimba dan bertukar fikiran).

"Woalah, begita ya Mbah. Lha terus kok bisa si Astuti tadi langsung berhenti nangis setelah jenengan tembangaken ya Mbah?" Tanya Gus Wo penasaran.

"Lha kebanyakan cah cilik kalau dinyanyikan lak yo meneng nangis e to Gus, aku ngerti kalau kamu dan istrimu itu ndak bisa nembang, makane tak coba tembangke." Ledek mbah Mun.

 

Aksara Terkait : Yu Nami, Kiriman Puisi Untuk Kartini

Beriklan Disini Beriklan Disini