Eksistensi Batik Geblek Renteng, Semakin Hari Semakin Mentereng
Sumber Gambar : Dokum DimasDiajeng

Beberapa tahun silam, tak banyak orang yang bersedia memakai batik. Kata kuno begitu melekat pada siapapun yang memakai busana ini. Kesan itu didapat karena tidak adanya rasa terbiasa memakai batik. Padahal sebenarnya justru kain yang kemudian digambar asli dari Indonesia.

Glamor Geblek Renteng

Batik Geblek Renteng dalam Fashion Show | Sumber Gambar : Dokum Dimas Diajeng KP, Karya Bayu Damar

Tak terkecuali di Kulon Progo sendiri, remajanya lebih senang memakai celana jeans dan kaos. Bila ditanya apa alasannya, mereka akan mengatasnamakan kenyamanan dan gaya. Mereka yang memakai batik pasti dikira akan menghadiri suatu acara. Batik tidak pernah dibiasakan menjadi pakaian sehari-hari. Beruntungnya kini, anggapan bahwa batik hanya cocok dipakai dalam acara formal saja, sedikit demi sedikit mulai terkikis.

Semenjak tahun 2012, atas usulan Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, batik mulai dibiasakan pemakaiannya. Khususnya batik geblek renteng yang notabene adalah batik khas Kulon Progo. Batik dengan motif seperti geblek yang merupakan camilan asli Kulon Progo ini pertama kali diperkenalkan oleh Ales Candra Wibawa dalam Lomba Desain Motif Batik Khas Kulon Progo.

Ales Candra

Ales Candra W dalam Penyerahan Hadiah oleh Bupati Kulon Progo | Sumber Gambar : http://anangelnino.blogspot.co.id

Berhasil melangkahi 303 peserta lainnya, batik yang didesain Ales akhirnya ditetapkan sebagai busana yang wajib dikenakan oleh pelajar dan pegawai instansi daerah di Kabupaten Kulon Progo pada hari-hari tertentu. Berkat penetapan dari bupati, pemakaian batik tidak lagi dipandang sebagai baju khusus acara resmi saja, namun juga atribut sekolah maupun bekerja.

Tresno jalaran saka kulino.

Mungkin inilah yang dirasakan oleh masyarakat Kulon Progo terhadap batik geblek renteng. Hingga saat ini, batik geblek renteng sudah begitu melekat serta menjadi ikon kebanggan masyarakat. Perkembangan batik awalnya memang hanya terbatas di lingkungan keraton, namun kini masyarakat dapat menggunakannya, bahkan membuat inovasi motif baru. Batik tak lagi terbatas untuk kalangan tertentu. Kini semua lapisan masyarakat bisa memakai batik kreasi. Mulai dari kakek-nenek hingga cucu-cicitnya, semua bisa memakai batik geblek renteng.

Bukan hanya sebagai alat pembiasaan masyarakat untuk menggunakan produk lokal, dengan adanya batik geblek renteng, para pengrajin batik di Kulon dapat hidup sukses dari keahliannya membatik. Harga batik geblek renteng juga tidak terlalu mahal. Berkisar puluhan ribu rupiah untuk batik cap sampai ratusan ribu rupiah untuk batik tulis. Harga yang sangat terjangkau untuk bisa dibeli oleh semua lapisan masyarakat.

Aksara Terkait : Walau Medhok Selera Harus Tetap Menthok. Serat Alam Sentolo, Kerajinan Enceng Gondok

Pemakaian batik geblek renteng juga mengajarkan kesetaraan, karena semua masyarakat memakai pakaian dengan motif sama. Tidak peduli apa pekerjaannya, berapa umurnya, atau apa golongannya, mereka bersama-sama memakai batik geblek renteng asli Kulon Progo.

Yang membedakan antara batik geblek renteng untuk pelajar atau pekerja hanyalah warnanya saja. Seperti warna merah untuk jenjang sekolah dasar, biru tua untuk sekolah menengah pertama, dan abu-abu untuk tingkat sekolah menengah atas. Sementara untuk warna batik geblek renteng pada instansi pemerintahan didominasi warna ungu, dan masih banyak lagi warna yang dipergunakan sebagai identitas.

Geblek Renteng

Batik Geblek Renteng | Sumber Gambar : Beritahati.com

Semakin hari semakin banyak pemakaian batik geblek renteng. Karena itulah semakin mudahnya menemukan batik geblek renteng. Mulai dari pasar tradisional hingga toko-toko besar di Kulon Progo sudah menyediakan batik geblek renteng. Dari yang dijual per potong kain, hingga batik yang telah siap pakai.

Stigma bahwa batik hanya cocok dikenakan oleh generasi tua, atau sebagai busana wajib kala menghadiri acara-acara penting kini mulai berubah. Sebab, pada kenyataannya batik geblek renteng juga tak kalah nyaman dan apik digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kombinasi dari batik geblek renteng juga kian beraneka dalam mengikuti tren. Kreativitas pengrajin pun seolah selalu dituntut untuk mengembangkan batik geblek renteng supaya tak tergilas oleh motif-motif batik yang lain.

Editor : Lajeng Padmaratri

Aksara Lainnya : JKW, Jam Kulonprogo yang Mendunia

Beriklan Disini Beriklan Disini