Hamemayu Hayuning Karangsari, Kanthi Nguri-Uri Kabudhayan Jawi
Sumber Gambar : Dokumentasi Kirab Budaya

Semangat nguri-uri budaya lokal nampak dalam rangkaian HUT Desa Karangsari ke-71. Dalam kesempatan ini, pemerintah Desa Karangsari merealisasikan komitmennya untuk terus melestarikan dan mengembangan adat tradisi dan budaya setempat. Komitmen tersebut tercermin dengan diselenggarakannya Kirab Budaya pada penghujung bulan Januari lalu, Rabu (31/01).

Guyub

Kirab Budaya HUT Desa Karangsari

Agenda ini merupakan rangkaian dari peringatan HUT Desa Karangsari ke-71. Sejak Rabu pagi, warga antusias untuk memulai peringatan dengan melaksanakan Apel Budaya pada pukul 08:00. Setelah itu warga dari 12 pedukuhan bersiap untuk Kirab Budaya. Arak-arakan budaya ini diawali oleh Dusun Kopat yang menampilkan pasukan Bregada. Kemudian dilanjutkan dusun-dusun lain dengan berbagai atraksi seperti Jathilan, bahkan Solawatan.

Melalui Kirab Budaya, warga dari 12 dusun dibebaskan untuk menunjukkan potensi dan kreativitasnya dalam menampilkan budaya lokal. Peserta kirab tak hanya mengenakan pakaian adat Kejawen, namun ada pula yang kreatif mengenakan kostum dengan dikombinasikan berbagai bahan lain.

Sebut saja Dusun Cekelan yang menampilkan tradisi siraman pengantin Jawa dengan air yang bersumber dari 7 sumur tua atau disebut Sapitu. Dalam tradisi ini, air siraman diambil dari sumur sole, sumur gemuling, sumur petruk, dan lain-lain. Calon pengantin kemudian dijemput orang tuanya untuk melaksanakan prosesi siraman dan dilanjutkan berwudhu dengan air kendi. Selepas berwudhu, kendi tersebut dibanting oleh kedua orang tuanya.

“Ora mecah kendi, ananging mecah pamor e anakku,”

tutur Putri Gupitasari, salah satu peserta kirab sambil menirukan prosesi siraman.

Kirab

Antusiasme Warga dalam Mengikuti Kirab HUT Desa Karangsari, Salah Satu Desa di Kulon Progo

Meski tidak melulu menampilkan budaya lokal, beberapa peserta juga menampilkan budaya lain yang menjadi ikon dusunnya. Seperti Dusun Suruhan yang menampilkan satuan marching band. Uniknya, peralatan musik yang mereka gunakan berasal dari bahan daur ulang, seperti kaleng bekas. Tak hanya kelestarian budaya, dusun ini juga fokus pada kelestarian lingkungan.

Keseluruhan budaya ini ditampilkan dalam kirab yang dimulai dari garis start di Balai Desa Karangsari kemudian berlanjut ke arah Gunung Pentul. Barisan peserta kirab kemudian melalui tanjakan melewati Dusun Sendang, kemudian Dusun Kopat, hingga Dusun Cekelan, dan berakhir kembali ke garis start.

Meski tidak diperuntukkan sebagai kompetisi, kirab budaya ini diikuti oleh warga-warga yang antusias untuk melestarikan budaya lokal. Setiap keunikan dari kesenian dan budaya lokal diperkenalkan kembali kepada generasi muda Karangsari supaya mereka turut berpartisipasi dalam nguri-uri budaya lokal. Tak hanya itu, dampak sosial juga mereka rasakan. Sebab, agenda kirab ini menjadi agenda guyub rukun antarwarga Karangsari. Tak ketinggalan, agenda ini juga menjadi upaya promosi bagi Desa Karangsari sebagai desa berbudaya.

Tak berhenti dengan Kirab Budaya, Desa Karangsari akan menutup rangkaian peringatan HUT ke-71 dengan pagelaran wayang kulit yang akan dilaksanakan pada Sabtu (03/02) mendatang.

Warta Lainnya : Cita Rasa Artistik, Olahan Sumber Daya Endemik

Beriklan Disini Beriklan Disini