Kenalkan Aku,
Sumber Gambar : Lukisan karya S.Soedjojono

Ratri namanya.

“Jika orang-orang ingin mendaki gunung agar bisa mencapai puncak, maka aku tidak. Jika berkesempatan untuk mendaki gunung, aku ingin menetap berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Berjalan-jalan di setiap sisi gunung dan bertahan hidup layaknya makhluk yang lain. Sehingga puncak bagiku hanyalah hamparan tanah, sebuah dataran di sisi lain. Sebab aku lebih bahagia ketika aku bisa lebih memahami, bukan ketika bisa meraih kemenangan dari peperangan atau semacam perjuangan. Kalau kau?”begitu tanyanya padaku pertama kali.

Pasti terlalu cepat jika aku memulai cerita ini dengan perkataan seperti itu.Tapi ini faktanya.

Sebuah pertemuan yang aneh, tanpa kami rencanakan dan kami duga. Dia hadir seperti kabar gembira ataupun kabar pahit yang tidak pernah bisa kita pikirkan.

Rentetan ceritanya seperti ini. Aku duduk di sebuah warung kopi, tidak bersama siapapun. Aku membuka facebook-ku, lalu tiba-tiba facebook menawariku “seorang teman yang mungkin kau kenal”. Lalu aku klik “Tambahkan”. Tiba-tiba saja pertemananku langsung disetujui. Aku lanjutkan dengan chating bersamanya dan kami mengobrol kesana-kemari sampai pada sebuah pertanyaan,”Dimana kau?”. Ternyata kami berdua berada di warung yang sama dan kami pun bertemu.

Aku menyebutnya dengan nama Ratri seperti nama facebook-nya. Dia memanggilku Murai, nama samaranku yang lain. Dia belum mengerti siapa namaku sebenarnya.

***

“Kau tidak normal,”kataku.

“Apa?! Kau pikir aku tidak normal?” tanyanya kembali sambil mengerutkan dahinya. Dua bola matanya yang berada tepat di bawah dahinya itu mencoba melihatku. Aku pun jadi bertingkah aneh dan dia tertawa. Bersama tawanya dia berkata,

“Kau pasti punya cara pandang sendiri sehingga kau katakan padaku bahwa aku tidak normal. Baiklah. Aku mau mendengar alasanmu.”

Aku pun mulai berargumen.

“Secara fisik kau normal. Kau punya seluruh organ tubuh yang komplit dan tertata dengan komposisi yang indah. Tapi bagiku, secara pemikiran kau tidak normal. Orang pergi mendaki gunung pasti karena mereka ingin mencapai puncak. Mereka selalu mempunyai mimpi untuk bisa sampai puncak.

Aku tahu bahwa kau sedang bermain analogi denganku. Dan analogimu menunjukan bahwa kau tidak normal. Sebab kau hidup dan kau tidak mau berjuang. Kau hidup dan kau hanya ingin menghabiskan waktumu untuk memahami apa yang terjadi di sekelilingmu tanpa kau tidak ingin menjadi yang terbaik. Sementara orang-orang normal lainnya menghabiskan hidup untuk berjuang. Menjadi sukses.”

Dia menatapku. Entah mengapa, dalam beberapa detik kami berdua terdiam. Dadaku berdegup kencang. Untuk lari dari tatapannya, aku berkedip. Dia pun kemudian berbicara.

“Aku hidup 27 tahun bersama orang-orang yang dianggap normal. Aku mencoba mengamati setiap hari yang mereka lakukan. Dari kecil hingga menjadi dewasa dan tua. Akhirnya aku mendapatkan sebuah rentetan hidup yang aku sebut sebagai “tradisi orang-orang kebanyakan”.

Setelah itu aku baru sadar, bahwa ayahku yang saat ini menjadi seorang pengusaha besar itu ingin mewariskan kepadaku ilmu tentang “tradisi orang-orang kebanyakan”.

Jadi seperti ini tradisi itu. Saya akan mengawali dengan nilai-nilainya. Nilai pertama, kita harus bahagia setiap saat dan berjuang untuk tidak sedih. Dua, oleh sebab itu dalam memperjuangkan hidup kita harus lebih baik dari satu hari ke hari lainnya. Padahal, siapa yang mengerti masa depan. Ketiga, hidup adalah perjuangan dan kita harus berjuang untuk memenangkan pertempuran yang ada. Keempat, kemenangan akan tercapai bagi kau yang memiliki kekuasaan pada beberapa hal yaitu harta, kecantikan, akses politik, pendidikan dan nama baik. Terakhir adalah seluruh apa yang kita lakukan merupakan bagian dari perjuangan menjaga nama baik diri sendiri, keluarga bahkan negara.”

Aku tertawa terbahak-bahak sampai seluruh pengunjung cafe kopi itu melihatku. Aku pun merasa malu.

“Lihatlah sekarang kau yang dianggap tidak normal oleh mereka,”kata Ratri.

Sambil tertawa aku berkata,”Kau sampai se-sentimen itu dengan ruang sosial yang ada di sekelilingmu?”

Dia kemudian menghisap rokoknya dan mengatakan bahwa apa yang dia bicarakan belum selesai. Sambil menghisap rokok, dia lanjutkan ceritanya.

“Itu baru nilai-nilainya, belum runtutan hidup mereka yang cenderung sama hanya bermacam-macam saja warna dan bentuknya.

“Jadi, setelah aku amati “tradisi orang-orang kebanyakan” itu mempunyai rentetan hidup seperti ini. Ketika kecil, anak-anak akan bermain-main dengan riang. Begitu sedikit dewasa mereka akan dituntut untuk belajar, membaca, menulis, agar bisa menyiapkan masa depannya nanti. Setelah itu, begitu mereka beranjak remaja mereka akan mengenal cinta. Mereka akan bahagia ketika punya pacar, dan akan sedih begitu tidak punya pacar.

“Orang dewasa ini kemudian membuat komunitas-komunitas untuk bisa bergaul lebih baik dan mempunyai eksistensi. Setelah itu, begitu beranjak hampir tua mereka akan di tuntut untuk menikah dan bekerja. Maka seringkali aku dengar pertanyaan-pertanyaan konyol, kapan kau menikah, kapan kau kerja.

“Maka orang-orang dewasa itu akan menikah dan bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya untuk bertahan hidup. Apalagi kalau sudah punya anak. Seolah-olah mereka punya alasan bahwa mereka bekerja untuk anaknya. Tapi sebenarnya tidak. Mereka bekerja supaya mereka bisa dianggap normal dalam ruang sosialnya dan mereka bisa hidup seperti masyarakat yang lain.

“Begitu pekerjaan dan keluarga mereka bisa hidup dalam ekonomi yang mapan, mereka akan bilang bahwa mereka sukses. Mereka berhasil. Maka mereka akan menceritakan keberhasilannya kemana-mana supaya anak-anak muda atau bahkan anaknya sendiri bisa meniru jalan hidupnya. Meneruskan “tradisi orang-orang kebanyakan”.

Itu akan menjadi siklus yang bergerak dari masa ke masa. Capaiannya adalah kesuksesan bagi dirinya sendiri. Tanpa mereka bisa memahami apa yang mereka lakukan. Itu terjadi di keluargaku.”

Dia terdiam. Begitu pula aku. Kami bersama-sama meminum kopi kami masing-masing. Kami seruput kopi itu bersamaan dan menaruhnya di atas meja secara bersamaan tanpa kami sengaja. Beberapa detik tidak ada percakapan.

Aku menyulutkan rokokku.

“ Itu terjadi denganku. Bagiku menjadi rasional itu lebih baik untuk hidup seperti saat ini. Maka aku merubah jalan pikiranku. Hidup adalah perjuangan bagi diriku. Maka yang paling penting adalah bermanfaat bagi diri sendiri.

Setiap waktu yang kita gunakan akan berimbas pada untung dan rugi. Dan sejak saat itu berfikir rasional lebih logis daripada berfikir sok spiritual dan filosofis sepertimu.

Faktanya. Aku baru saja menyelesaikan S2 dari perguruan ternama. Aku merasa menjadi orang paling bahagia. Namun akupun merasa ada yang kurang dariku. Aku belum menikah. Aku ingin menikah. Berkeluarga dan punya anak. Aku punya mimpi agar bisa mengumpulkan banyak harta dan menjadi orang kaya dan orang pintar di kota ini. Aku ingin menjadi profesor dan bisa melahirkan banyak sekali karya. Hingga pada akhirnya banyak orang yang mengenalku. Hingga saat mati nanti, akan ada banyak orang yang merasa kehilangan. Namun namaku masih tetap ada,”kataku kepadanya dengan muka datar.

Dia tersenyum dan menahan tawanya.

“Mungkin aku bercerita pada orang yang salah,”katanya tiba-tiba.

“Kenapa kau bilang itu?”tanyaku.

“Wajahmu terlihat buruk,”jawabnya.

Aku tidak bisa komentar apapun. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku pun mengangkat telepon dan segera aku jawab, “Maaf, lain kali saja.” Handphone aku matikan.

“Kalau kau sibuk, kau boleh pergi!”kata Ratri dengan begitu enteng.

“Perbincangan ini belum selesai. Kau membuatku harus tetap duduk di tempat ini,”sanggahku.

“Okey. Apa yang ingin kau perbincangkan wahai orang normal?”tanyanya.

Dia mulai mengejekku. Dia duduk dengan santai dan matanya mengamatiku. Kedua pahanya disilangkan dan badannya ia sandarkan di kursi. Dia masih menghisap rokoknya. Aku melihat dari raut wajahnya, dia tidak punya beban apapun dalam hidup.

“Kenapa kau hidup?”tanyaku.

Dia langsung tertawa mendengar pertanyaanku. Baginya mungkin aku seperti seorang bocah dengan pikiran yang naif sedang melemparkan sebuah pertanyaan konyol kepadanya. Mengapa, aku benar-benar menjadi grogi di hadapannya.

“Hei, Murai! Aku tidak pernah memilih untuk hidup. Hidup adalah takdir. Seperti itulah cara Tuhan memberi kebahagiaan dan penderitaan kepada kita. Tanpa kita pesan dia sudah hadir dan ada. Tak perlu kita perebutkan.”

Bagiku dia terlihat begitu cantik setelah mengatakan hal itu padaku. Aku pun semangat untuk melanjutkan pertanyaan lain. Aku belum selesai untuk mengetahui lebih jauh tentangnya.

“Kau bahagia?”tanyaku.

“Buat apa bahagia?”tanyanya kembali.

“Bukankah itu yang dicari orang?” tanyaku kembali pula.

“Aku tidak peduli.”

“Lantas?”

“Kita jalani saja.”

“Kau tidak mencarinya?”

“Mencari apa? Mencari kebahagiaan yang ada dalam kepala orang-orang kebanyakan? Kita cari dan kemudian kita miliki sendiri? Orang-orang normal hanya memperjuangkan kebahagian yang diterjemahkan. Bukan kebahagiaan itu sendiri.”kata Ratri. Dia terdiam. Dia mematikan bara dari rokoknya yang sudah habis dia hisap. Tiba-tiba dia ingin beranjak.

“Tunggu!”aku menahannya. “Aku ingin bertanya sekali lagi saja.”

“Apa?”katanya sambil berdiri dan menenteng tas ranselnya.

Angin mendadak membelai rambutnya yang panjang. Dan tiba-tiba terdengar gemuruh dalam dadaku. Oh bukan gemuruh melainkan ombak. Hmm, bukan. Ini semacam perasaan cemas dan tidak percaya diri. Tapi aku tidak pantas untuk tidak percaya diri.

“Kau ingin menikah denganku?” tanyaku tiba-tiba.

Dia duduk kembali. Dia menjetikkan jarinya di meja. Beberapa detik bahkan menit kami terdiam. Hanya terdengar suara “tek..tek...tek..” di meja kami. Tiba-tiba saja hujan. Hujan di musim kemarau. Secara refleks aku menengok ke arah hujan yang begitu lebat di luar cafe. Beberapa detik kemudian aku kembali menengok ke arah Ratri.

Dia menghilang.

Aku mencarinya kemana pun dan tidak menemukannya. Lalu, aku ingin mencoba mengirim pesan lagi dengannya di facebook namun tidak aku temukan juga akun dengan nama Ratri. Dia pun menghilang di dunia maya. Pertemuan yang aneh dan berakhir dengan perpisahan yang aneh.

Dia belum mengenal siapa namaku sebenarnya.

***

Tiga hari kemudian setelah pertemuan itu, tiba-tiba aku mendapat pesan di inbok Facebook-ku. Aku sangat kaget karena pesan itu berasal dari Ratri. Dia mulai menyapaku, HAI MICHAEL NAFAS.... J. Aku tambah kaget bagaimana mungkin dia bisa mengetahui namaku sebenarnya. Hal yang membuatku tiba-tiba berdiri kaku adalah ketika dia mengirimkan nama dia sebenarnya.

Ternyata namanya bukan Ratri. Namanya yang benar adalah nama yang begitu akrab buatku. Nama yang sudah begitu lama aku tidak ingin mengingatnya dan menyebutnya seperti saat-saat dulu.

 

Saat ketika aku masih tinggal di dekat surau.

Beriklan Disini Beriklan Disini