Kulonprogo Extreme: Liar dan Tampil Beda!
Sumber Gambar : Redaksi Aksaraku.com

Minggu pagi yang cerah di Pelabuhan Pantai Glagah. Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya di bulan ramadhan yang hanya terlewatkan begitu saja di atas bantal, Gus Wo akhirnya menyempatkan diri sesekali ‘dedeh menyambangi sobat muda mudi aksaraku.com. Bersama Lik Gas dan Mbak Med, mereka mendatangi kerumunan muda di Pelabuhan Tanjung Adhikarta, Glagah, Kulonprogo. Sabab sederhana, menjawab rasa resahnya mendengar kabar riuhnya aktifitas mudamudi warga aksaraku.com di pantai tersebut pagi itu. Gus Wo beserta rombongan akhirnya memutuskan berangkat dengan sepeda legend mereka masing-masing. Sampai di persimpangan jalan,

"Punten pak, ini ada apa je kok rame sekali?" Tanya Gus Wo.

"Nganu Gus, ada freestyle. Mben (setiap) minggu khusus di bulan ramadhan disini ada freestyle Gus. Kulo ya baru kali ini mau lihat kegiatan muda-mudi yang jarene atraktip itu Gus. Monggo nek ajeng mirsani. Sareng nggo" Sambung Bapak tadi.

"Woalah, njih pun pak, monggo" Jawab Gus Wo kompak beserta rombongan.

 Glagah

Gambar : heri-sugianto.blogspot.com (Suasana Pelabuhan Tanjung Adhikarta)

Sesampainya di jalan pelabuhan, ternyata benar. Ada segerombulan muda-mudi di sana sedang tandem ketangkasan kreatip, beradu adrenalin dengan kuda pacunya masing-masing. Tak kalah, penontonnya pun mbludak, "kaya gabah diinteri". Di berbagai sudut pelabuhan dipadati lautan manusia. Hanya di bulan ramadhan suasana ini bisa dirasakan. Dengan ditemani riuh rendah penonton dan deru knalpot blombongan yang digeber-geber, Gus Wo, Lik Gas dan Mbak Med menyaksikan freestyle, yang kabarnya dimulai sejak bakda subuh tadi hingga nanti pukul 8 terik.

Di tengah keriuhan penonton dan keberan motor mudamudi tadi, tiba-tiba Lik Gas nyeletuk.

"Bajilak, tenan je Gus. Wong-wongane (buset, ni orang-orang) disini kok ya sangar-sangar tampangnya."

"Iya je" Imbuh Mbak Med singkat bercamur decak kagum.

"Ha raimu ki po ora Lik? (apa ya mukamu ndak kalah nyeremin dari mereka?) Makane to, ra sah nggumunan. Ndak palah ilang jawamu. (makannya, ndak usah gagap dan gagal konteks begitu. Nanti palah hilang jatidiri ‘kejawaanmu). Ayok, setelah selesai ini kita sambangi mereka aja. Ajak ngobrol, sinambi nyengkuyung, jane polahe ki dasar lan kekarepane ki opo to? Kyake mereka asik-asik wong-wongane” Jawab Gus Wo, setengah sok tenang dan bijaksana.

Aksara Lainnya : Holy oh Holiwut

Tandem

Sehabis freestyle selesai, Gus Wo menyambangi salah satu pemain freestyle. Ternyata mereka sangat ramah. Gus Wo dan teman-teman pun diajak ke tempat teduh untuk ngobrol ngalor-ngidul lebih lanjut bersama pemain-pemain freestyle tadi. Sembari menuju tempat teduh, Gus Wo membisiki Lik Gas.

"Lho, mah apikan ta bocah-bocahe. (lo, benar kana a kataku, mereka baik-baik ko) Makannya jangan lihat orang, mung seko dapurane (mukanya)" Gus Wo berkelakar.

"Monggo pak, merapat" ulur tangan salah satu uda-mudi tadi mengajak salam tos dengan Gus Wo dan rombongan.

Sesampai di samping dermaga, akhirnya mereka saling berkenalan. Ada Mas Adi Dwi Rohman dan Mas Rudi Haryono pemuda aseli Nanggulan, serta Mas Riski Taufan, asli Galur, Kulonprogo. Ya, benar. Mereke freestyler asli Kulonprogo

"Mas-masnya sudah lama to ikut balapan seperti ini?" Tanya Mbak Med.

"Ini bukan balapan je Mbak, memang orang-orang itu stereotipenya (kesan) balapan, tak jarang pula ngejustice kami dengan embel-embel geng motor liar. Tetapi sebenarnya tidak. Kalau balapan, apalagi balapan liar itu kan ndak baik to mbak? Mengganggu pengguna jalan, kadang malah bikin was-was warga sekitar. Kalau kita itu Freestyle, jadi yang ditampilkan bukan cepet-cepetannya, tapi bagaimana bisa mengendarai kendaraan, baik roda 2 maupun 4 dengan gaya yang indah. Misalnya stupi, hold jumping atau jawanya njamping panjer, dan lainnya. Dan sebenarnya pesan tersirat freestyle itu untuk ikut serta memberi pengetahuan kepada masyarakat luas tentang pentingnya safety riding Mbak. Maka freestyler itu harus pakai atribut berkendara yang lengkap dan aman. Juga ada standar dan aturan mainnya. Ndak njut mergo arane freestyle njuk yak-yakan (bukan mentang-mentang namanya freestyle terus palah jadi ugal-ugalan" Jawab Mas Adi yang ternyata dia adalah pendiri Komunitas Freestyle Kulonprogo.

 

Mas Adi Dwi Rohman, Pendiri Kulonprogo Extrem

Komunitas yang ia dan kawan-kawannya namai Kulonprogo Extreme dan didirikan tepatnya tanggal 29 Juni 2013 silam.

"Oh gitu ya, punten sanget mas Adi. Mah baru tahu ini saya. hehe" Tangga Mbak Med.

"Sejak kapan to Mas, Kulonprogo Extreme ini mulai aktif main setiap ramadhan di pantai Glagah ini. Sama kalau dukungan dari pihak-pihak seperti warga atau pemerintah bagaimana Mas?" tanya Gus Wo.

"Kita baru resmi aktif tahun 2014 tepatnya, mulai tampil di Glagah ini Gus. Kalau dukungan dari pemerintah belum ada, tapi kalau dari warga ada dengan menyediakan tempat Underpass yang sudah ndak kepakai di daerah Kulur, Temon, Kulonprogo ini. Ya dari pada nganggur dan palah bikin resah keluarga di rumah to Gus? Mending ya dibuat berkreasi, atau sekedar latihan, olah ketangkasan sekaligus mental. Dan dari kepolisian juga ada, dengan mengarahkan kami para freestyler untuk lebih menjadi pionir di masyarakat sebagai pengendara yang peduli akan safety riding" Sambung Mas Rudi Menjelaskan Panjang.

"Kalau anggota Kulonprogo Extreme sendiri berapa mas? Sama kok Freestylenya hanya pas Ramadhan saja? Hehehe, ngapunten yam as, sisan pertanyaannya diborong ini. Dan mengapa memilih di pantai Glagah Mas?" Lik Gas kepo.

"Ha itu Mas. Teman kami latihan baru 5 orang yang asli Kulonprogo. Kadang teman dari sleman dan jogja juga ada yang datang. Sebenarnya kita latihan sering sih mas di Kulur, Temon. Tapi jarang sekali terekspos. Dan momen Ramadhan di pantai Glagah inilah yang menurut kami ramai dan bisa memperkenalkan freestyle kepada masyarakat luas, termasuk pesan safety riding tadi Mas." Jawab Mas Riski.

 

"Mas, punten ya ini. Kalau suka duka jadi freestyler, gimana Mas? Baik suka duka pribadi maupun komunitas? Unten tenan lo mas, ini Cuma sabab penasaran kami, dan bukan maksud mengintimidasi aalagi mengintrogasi lo" Lanjut Gus Wo sedikit bergurau.

"Hahaha, santai Gus. Sudah biasa dicecar begitu. Ya kalo kita ma niatnya baik, ya kenapa kita harus merasa terancam. Jadi biasa saja. Begini, secara komunitas sebenarnya kita sering ikut kompetisi nasional ya walaupun hanya nyabet piala yang tak seberapa, itu cara kami ikut berusaha mengharumkan Kulonprogo. Dukanya, kita belum ada tempat yang layak untuk latihan. Sekarang kita baru nembusi stadion Cangkring untuk rencana tempat latihan kalau disetujui. Serta masyarakat juga masih memandang agak miring dunia kami. Mereka masih memandang kita seperti gank motor liar, ugal-ugalan. Padahal tidak seperti itu. Kami punya unggah-ungguh, dan itu prinsipil. Seperti tadi diceritakan mas Riski lah kira-kira. Tandas mas Adi.

“Kalau secara pribadi Gus, sukanya ya sekarang ini orang tua sudah tahu dan mendukung saya nge-freestyle sabab sudah tahu arah saya kemana. Tapi jaman dulu, saya sering dimarahi Gus. Sampai ibu saya bilang, koe ki arep dadi wong opo? (kamu itu mau jadi apa). Dan sampai mau latihan saja, motornya disembunyikan Gus. Jadi nggak bisa ikut latihan. Ada juga, di marahi orang sewaktu kami main. Di Glagah ini juga. Kami dimarahi habis-habisan karena dianggap mengganggu ketentraman. Saya ingat betul kata-katanya Gus, kalau ndak segera pergi dari sini, tak bedhil ndasmu (tak tembak kepalamu). Begitu kata warga saat itu. Tapi kesini yaw ajar saya dan kawan-kawan sadari. Sebab itu juga merupakan proses dari uji mental kami. Kunciny nek pengen seneng lan tentrem, ojo sepaneng, nggih mboten Gus? (kuncinya, kalo mau bahagia jangan terlalu serius. BigPicture!)" Jawab Mas Adi segera mencairkan suasana.

 

"Trus jnengan gimana reaksinya Mas Adi?" Tanya Mbak Med.

"Ya saya berusaha nyalami orang yang marahin saya mbak sambil ngapunten (minta maaf), tapi saya tetep diusir. Tapi nggak papa, ya itu tadi, sebagian dari proses. Dinikmati aja dan dibawa slow. Malah hal tersebut jadi motivasi saya dan kawan-kawan untuk terus lebih giat memerkenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang dunia freestyle yang benar, nek perlu yang rahmatallilngalamin kepada masyarakat luas, hehehe."

Dan, ini jalan yang sudah saya pilih, ini hobi saya, ini darah saya, dan dengan ini saya harus bisa mengharumkan nama Daerah saya, Kulonprogo.

Jawab Mas Adi dengan semangat penuh visi kedean. Terakhir, Bapak-bapak yang momong anak tadi pun ikut manggut-manggut paham, kemudian menyalami mereka, sambil minta maaf atas buruk sangkanya pada mereka sebelumnya. Sampai palah melabeli 'orang sangar' pada mereka. 

Begitu kira-kira berkah ramadhan Gus Wo dan warga aksaraku di kesempatan taun ini. Perjumpaan dan perkenalannya dengan Komunitas Ekstreme atau para freestyler pantai Glagah ternyata telah memberi arti tersendiri berkah Ramadhan kali ini. Semoga, para pembaca dan warga aksaraku.com di luar sana pun demikian. Maturnuwun.

Aksara Lainnya : Asli Lokal Citarasa Global

Beriklan Disini Beriklan Disini