Macchiato- Eps 2
Sumber Gambar : MacchiattArt

“Kau masih mencintaiku?”dia bertanya lagi setelah menyeduh minumannya.

Aku terdiam. Bukan karena bingung. Aku telah menjalin hubungan dengannya begitu lama. Memang kami belum menikah, kami telah menjalin kasih atau anggap saja pacaran selama 3 tahun.

“Kenapa kau diam?”tanyanya lebih menantang.

Aku tatap matanya. Dia pun menatapku. Jemarinya dingin ketika aku memegangnya. Aku sadar bahwa ini adalah adegan romantis yang pernah aku lakukan ketika pertama kali aku menyatakan cinta pada seorang wanita. Dan itu adalah dia. Jantung berdegup tak pasti, serasa benar-benar mengulang pertemuan pertamaku dengannya.

“Apakah segala waktu yang telah kita lalui ini tidak bisa menjadi bukti, bahkan jawaban dari kebimbangan cintamu pada takdir dan ketidakpastian kesetiaanku padamu?” jawabku.

Dia diam sejenak. Diminumnya secangkir Macchiato yang tergeletak di depannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Espreso yang biasa aku minum, biasanya terasa tak begitu pahit. Ini kali pertama kopi itu terasa pahit.

“Kau percaya kemungkinan?”tanyanya.

“Lebih dari kepercayaanmu?”jawabku.

“Aku takut.”katanya.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan, kita telah memilih dan harus bisa mempertahankan pilihan.”

“Kemungkinan, seolah menjadi sebuah kabar yang tak pernah kita harapkan. Kita telah menjalani hubungan ini selama 3 tahun. Sebuah waktu yang tak lama. Aku takut, kemungkinan akan merusak segalanya. Lantas, apa gunanya kita menjalin hubungan ini begitu lama kalau Tuhan berkehendak lain dan semua akan berubah? Perasaanmu padaku akan berubah, kesetiaan kita akan berubah? Aku benar-benar takut,”di wajahnya tersimpan kesedihan yang tak seperti biasanya.

“ Mengapa kau tidak yakin pada jalan yang telah lama kita pilih dan kita perjuangkan?” tanyaku.

 

BERSAMBUNG....

Beriklan Disini Beriklan Disini