Pedhut Jinggo
Sumber Gambar : Ilustrasi

PEDHUT JINGGO

 

Murniati memutuskan kembali ke kampung halamanya saat kehidupan rumah tangganya bersama Atep Rahmat kandas tertelan gelombang badai kota. Ia tak tahu lagi di mana rimbanya laki-laki yang pernah mengobralkan sejuta janji itu.

Kini Murniati kembali menapaki kehidupan desa bersama Mbah Murjito, bapaknya, yang juga telah ditinggalkan oleh ibunya menghadap pemilik-Nya.

Saat kedatangan Murni, bertepatan dengan Mbah Mur kasak-kusuk ingin mengadakan ‘seribu hari’ ibunya.

Murni menukas, “Pak, nggak usah pakai seribu hari segala, nggak ada tuntunane. Pak! Kanjeng nabi dan sahabat nggak pernah berbuat demikian!”

"Bapak juga pernah dengar itu, Nduk, tapi mau gimana  lagi? Pekewuh sama  tetangga," jawab Mbah Mur lirih.

"Nah, itu dia, Pak. Saat ada perasaan pekewuh sama tetangga itu sudah jelas bahwa itu bukan perintah Allah, tapi perintah tetangga!"

Bapaknya terdiam. Ia kemudian tersenyum, “Wah, kaya ustadzah wae, Wuk! Bapak  isya dulu di langgar ya!” Mbah Mur pamit jamaah isya di masjid depan rumah.

***

Mbah Mur adalah seorang penggali sumur. Ia tergolong mahir mencari lokasi mana yang kira-kira ada sumber airnya.

Alhamdulillah, semua dijalani tanpa klenik, melainkan memanfaatkan kedekatan dengan alam. Ia mengenali tanda-tanda alam dengan alat sederhana, seperti daun pisang,  jerami, dan daun sukun. Daun itu ditaruh di atas tanah yang dirasa ada sumber air di bawahnya, jika tumpukan jerami itu basah setelah ditaruh semalaman, Insyaallah di situ ada sumber airnya, dan akan segera dimulai penggalian, dibantu seorang yang bertugas mengerek tanah ke atas saat galian sudah mulai dalam.

Tetapi keadaan berubah, di desa-desa telah masuk PDAM, sehingga nyaris tidak ada orang membuat sumur lagi. Lalu Mbah Mur sehari-hari merumput untuk tiga ekor kambing piaraannya, memberi makan ayam, dan  memetik kelapa sebagai penghasilan rutin tiap bulan.

Beberapa waktu lalu Murni kedatangan teman lama, menawarkan bibit Cendana Daun, orang setempat menyebut Cendana Ki Sampang. Tanaman dengan nama latin Melicope denhamii ini cocok tumbuh di segala jenis tanah, mudah perawatanya, dan memiliki masa vegetatif antara 4-5 bulan. Hasil panen ranting daun dan buah basah mencapai Rp25.000 per kilogram, dan satu pohon memiliki kisaran produksi 5-15 kilogram! Daun ini yang nanti disuling untuk dijadikan bahan campuran minyak wangi yang akan diekspor ke Timur Tengah.

Subhanallah, cukup menggiurkan, meski benih cukup mahal, per bibit Rp60.000, teman Murni cukup kooperatif, Murni bisa membayar dengan cara cicil tanpa tambahan apa-apa. Setelah panen dengan asumsi satu pohon sanggup mengembalikan satu bibit, masih tersisa, pun temannya tidak mengikat harus cicil berapa. Dan tiap panen sudah ada kelompok pemanen yang disediakan oleh temennya itu sekaligus pengepul hasil panen, sehingga Murni tidak perlu repot mencari pasar.

Mbah Mur sudah menyelesaikan penanaman 200 pohon cendana dibantu Murni dalam waktu 2 hari. Hari-hari Murni menyirami cendana dengan seribu doa seribu harap terlantun. Harapan untuk Mbah Mur, dirinya, dan bayi yang dia kandung. Tetes air matanya turut menyiram bibit-bibit itu.

Kondisi fisiknya yang kadang labil tak ia hiraukan. Dia dan bayinya harus hidup. Tak ingin berlama-lama beruarai air mata, dikuatkan hatinya dengan Istighfar, meski kadang tercekat di tenggorokan. Ala bi dzikrillahi tath mainnul qulub..

***

Sore itu seusai salat Ashar di masjid, Mbah Mur duduk di lincak depan rumah. Di halaman, Murni sedang menyapu daun-daun yang berjatuhan dari pohon sengon di sekitar rumah. Rumah yang sudah cukup tua, dengan gebyok kuno berwarna coklat pudar. Lantai semen kasar yang dulu dikerjakan sendiri oleh Mbah Mur, teras dengan dua lincak -satu di sisi kanan, satu di sisi kiri- menjadi tempat leyeh-leyeh Mbah Mur sehari-hari, pun saat menikmati kopi dan singkong rebus di pagi hari.

Mbah Mur memanggil Murni.

"Wuk, opo yo tanduranmu arep mbok siram nganggo banyu PAM terus?"

Murni diam tak menjawab, lalu balik bertanya " Terus pripun, Pak?"

Mbah Mur ternyata punya rencana membuat sumur sebagai sarana pengairan buat 200 pohon cendana itu.

"Bapak sudah sepuh, nggak usahlah, Pak. Atau kalau harus bikin sumur, nyuruh orang lain saja"

Tapi tekat Mbah Mur bulat, ia teguh hendak membuat sumur di sekitar kebun cendana.

***

Mbah Mur sudah menemukan lokasi, di sisi barat kebun, yang berbatasan dengan pekarangan Pakde Sholihun. Di situ ada kandang kayu tempat Pakde Sholihun menumpuk hasil kayunya yang kemudian dibawa ke tukang tobong untuk dijual. Mbah Mur memulai penggalian.

Setelah mencapai kedalaman tertentu, Murni membantu mengerek tanah naik. Dengan menggunakan ember yang diikat pada seutas tali, ia menimba tanah.

Kadang nafas murni nyaris putus, merasakan terik, haus kondisi hamil, dan beban tanah yang harus dia kerek! Tapi tak ia pedulikan, selagi masih kuat bertahan, pantang baginya berkeluh kesah.

Kian hari kian dalam, waktu berlalu telah terhitung minggu. Seminggu, dua minggu, tiga minggu! Hari ini minggu ketujuh, sumur itu telah amat dalam. Entah berapa meter, namun belum juga ada tanda-tanda muncul sumber mata air.

Mbah Mur turun pada pagi, lalu naik rehat menjelang Dzuhur dan makan siang. Lalu turun lagi setelah rehat dirasa cukup. Lama juga waktu penggalian, mengingat usianya tak lagi muda.

Hari itu ba'da Dzuhur, Mbah Mur mandheg mangu, setengah ragu melangkah ke ladang.

"Wonten menapa, Pak?" tanya Murni.

"Ora wuk, muga-muga dadi panganmu."

Bergegas Mbah Mur melangkah! Menyingkirkan rasa penat rasa ragu, demi anaknya, demi cucunya, yang bernasib tak seuntung harapannya! Dia harus berbuat sesuatu untuk orang yang dia kasihi.

Setelah hampir sejam Mbah Mur berangkat menggali, Murni menyusul, seperti biasa menurunkan tiga ember kecil buat mengerek tanah. Beberapa menit kemudian diangkat. Ringan? Tidak terisi… Jantung Murni berdegup tak beraturan. Suaranya cekat, memanggil sekuat tenaga. "Pak… Pak! Bapak...!" Namun, tak ada sahutan dari dalam sumur.

Bibir Murni bergumam lemah. Pedhut jinggo? Ya Allah. Terseok dia lari ke kandang ayam, teringat si blorok hari ini dikurung.

Ditangkap ayam itu, dibawa lari ke sumur, kaki Murni terasa ngilu kaku. Diikat ayam itu dengan tali ember. Lalu diturunkan ke sumur. Beberapa menit ayam itu lalu diangkat. Tubuh ayam itu membiru tanpa nyawa.

“Bapaaaak!” Teriak Murni mengundang Pakde Sholihin dan para tetangga berdatangan.

Sesaat tetangga berkumpul merawat jenazah Mbah Mur. Murni mematung di sudut rumah. Wajahnya lusuh. Air matanya telah kering. Tak tertumpah. Tapi terasa menyesakkan dada.

***

Hari ini hari pertama Murni sendirian, setelah beberapa hari sejumlah tetangga dan sanak menemani.

Malam ini mereka kembali ke rumah masing-masing. Bangun tidur Murni seperti berada di bumi yang asing. Bumi yang membawa dia tersesat tak tahu jalan pulang.  Sendiri, benar benar sendiri. Dia berlari ke ruang belakang, di bale tempat bapaknya biasa tertidur. Dia menahan sumbatan panas di dada.

Tak ada siapa-siapa. Pada bapaknyalah segala beban batinnya sempat dia tumpahkan, ditinggal suami dalam kondisi berbadan dua. Murni seperti anak kecil, menangis di pangkuan bapaknya. Dan itu yang menjadi beban bagi murni sekarang, di akhir hidup bapaknya, dia justru membuat bapaknya sedih, membebani bapaknya lahir batin. Ia pun merasa belum sempat membalas kasih sayang mereka. Tapi hanya kepada bapaknya dia bisa menceritakan semua beban batinnya. Dan laki-laki tua itu menasehati dengan sesekali nafas berat. Jari-jemari berurat berwarna kelam mengusap kepala anak satu-satunya itu.

"Semua cuma titipan wuk, suatu saat akan diambil sama Sang Penitip.” Murni mengenang. Dan sekarang bapaknya juga diambil Sang Penitip.

Kenapa harus semua diambil? Emaknya, suaminya, dan juga bapaknya!

Di saat menanam cendana kemarin Murni berniat panen pertama akan dia belikan sarung buat bapaknya, menggantikan sarung cokelat yang telah lusuh dan dipakai saban hari ke masjid. Juga akan membelikan sajadah, karena sajadah biru bapaknya telah panjang sebelah, panjang di sudut kiri depan karena dimakan usia.

Sejuta rasa bersalah pada laki-laki itu. Sekian waktu hidup berkeluarga, nyaris Murni tak sempat memikirkan membalas budi, atau memberikan apa buat bapaknya, selain saat pulang lebaran. Rasanya semua begitu cepat berlalu. Dan disadari setelah semua tak di sisi, saat semua telah hilang, saat semua sesal tak akan terjawab.

Murni bangkit dengan berat, tak ada semangat ke dapur. Buat apa?

Tak ada semangat buat makan, mulutnya terasa pahit. Tak akan tertelan hari ini yang namanya makanan.

Dia kembali terduduk dan akhirnya tak kuasa dia menahan awan berat di dadanya. Dia terguguk sendiri. Ditemani angin yang meniup pelan bersama pagi yang kian memutih.

Entah berapa hari Murni terpuruk larut marut oleh perih sepi sendiri. Tak ada tempat berbagi, tak ada teman tuk bercerita. Terhenyak tersadar, tendangan yang kian halus dari perutnya, yang selama beberapa hari ini nyaris tak sempat ia hiraukan...

Dia menarik nafas panjang. Diusap pelan perut buncitnya. Anakku....

Saat kau lahir nanti, jangan tanya di mana ayahmu, di mana simbahmu. Hanya aku milikmu, nak. Ini ibumu. Kau nafasku. Temani hari-hari ibu dengan senyum ceriamu. Dan jangan tinggalkan ibu, jangan pergi dari ibu! Hanya engkau teman ibu.

Murni bangkit, teman kecilnya ini butuh makan. Dia harus hidup. Dia tidak boleh meninggalkan dirinya.

Sebuah kekuatan, demi anak yang dikandungnya. Dia melangkah ringan dan cepat. Ke kebun cendana, yang ranting-rantingnya mulai memanjang, daunya bersemi hijau, pohonya tumbuh, secercah harapan untuk buah hatinya. Dia mulai menyiram dengan air PAM yang dialirkan dengan selang, ditampung pada tempayan tanah liat.

Murni menahan langkah tak ingin mendekati sumur itu. Tapi beberapa cendana yang tumbuh di sana harus ia siram.

Tanpa sengaja saat melintas sumur, kepalanya melongok sekilas ke dalam sumur. Lalu dia melangkah lagi.

Tiba-tiba Murni terhenti. Dia seperti melihat sesuatu dari dalam sumur. Kilatan cahaya! Dia memutar langkah. Dia longokan sekali lagi kepalanya ke dalam sumur. Cahaya itu? Matanya terpejam. Dipastikan lagi cahaya itu, dia ambil kerikil lalu dilempar ke dalam. Cluung... Suara  merdu itu? Suara kerikil yang jatuh di air dan kilatan cahaya itu dari pantulan sinar matahari yang mengenai air.

“Bapaaaaak!” Panggilnya kuat! Panggilan yang tak akan sampai pada yang dia panggil!

“Pak, sumurnya ada airnya, Pak! Ada sumber airnya!” Murni tersimpuh dan bersujud di tepian bibir sumur. Lalu dia usap perutnya. “Nak rejeki kita, yang simbah tinggalkan buat kita.”

Air itu memang tertahan dari jasad bapaknya. Sehingga jasad Mbah Mur tak terendam air. Entah kapan mata air itu mengalir, seiring air mata Murni yang kian menyusut. Air itu datang untuk Murni dan anaknya, yang Allah kirim sesuai pesanan Mbah Mur dalam doanya. Air itu rejeki buat anak dan cucunya.

Berbaktilah sebelum dia dipanggil.

 

*) Pedhut jinggo: kabut jingga, gas bumi, beracun yang mematikan yang sering ada di saat galian mencapai kedalaman tertentu.

Terkadang kita tidak menyadari apa yang kita punya, sebelum kehilangan…

 

Arum

Yogyakarta, selesai 7 Februari (sakit-sembuh)

 

Beriklan Disini Beriklan Disini