Penyakit Gila Jakarta
Sumber Gambar : Sumber : Penelusuran Google

Kemewahan sekaligus ketakutan seakan berkelebat di benak ketika mendengar nama Jakarta. Berbekal biografi kolega dan ‘teman kajian’ yang iseng disampaikan ibu saya lewat bahasa lisannya ketika kami bergelut di dapur — dan tentu saja- kesempatan wawancara yang semoga terlaksana setelah keadaan berangsur baik-baik saja, saya memulai cerita ini dengan perasaan tak biasa. Perasaan ambisi yang tak heran bila mendominasi di waktu-waktu seperti ini, tiba tiba berangsur seperti hampir tak ada sama sekali. 

Mencicipi suasana Jakarta memang dibilang realistis sekaligus fantastis untuk seusia saya, yang baru saja dinamai sarjana, sebuah titel yang menurut saya bagai dua sisi. Menjadi kebanggaan sekaligus beban. Setidaknya bagi orang terdekat saya, orang tua. 

Saya menulis ini untuk teman-teman yang masih mahasiswa, atau yang sama-sama baru menuntaskan, tak terkecuali untuk pengingat diri saya, yang tak ada habisnya tertarik untuk pergi kesana, berkelindan mengadu nasib. Titik balik mindset saya berubah akan stigma kota ini ketika saya menikmati dua karya Yandy Laurens. Selalu saja. Yandy, yang bikin saya merasa miris tanpa harus menangis.

 

Dalam dua karyanya, Yandy bercerita bagaimana “rumah” menjadi satu satunya aset tak ternilai bagi siapa saja. Mimpi memang wajar dimiliki, tapi satu hal yang tak bisa dibeli oleh mimpi adalah, sebuah mental meninggalkan kemapanan.

Keluarga Cemara saat pindah ke rumah barunya karena ditipu oleh client perusahaan Abah 

Euis, salah satu tokoh dalam film Keluarga Cemara menyadarkan saya akan naluri seorang remaja, maupun dia yang beranjak dewasa, terpukul saat harus meninggalkan Jakarta dengan segala kemapanan. Apalagi dengan cara yang tidak mengenakkan. Yandy dengan apik mendeliver emosi Euis seolah olah representasi dari kita kebanyakan yang mendamba Jakarta karena menjadi pusat segala. Perlu diakui, aktualisasi diri sangat dihargai ketika kita mampu menjadi masyarakat urban, terlebih Jakarta. Bukan berarti saya mencoba idealis dan menampikkan sisi realistis. Siapa yang tak ingin namanya besar dengan segala capaian? Oportunis merupakan salah satu sifat alamiah yang pasti dimiliki manusia, tak terkecuali saya, pun bisa Anda. Tapi dari film ini, saya belajar memaknai ulang arti sebuah kebahagiaan dan hubungan. Banyak perasaan yang terpendam, banyak rasa yang tak diungkap, dan banyak fisik tak terdefinisikan lelahnya, ketika kita sama-sama mencoba melihat dari angle setiap anggota keluarga.

Euis saat mulai kehilangan kepercayaan pada Abah

 

Tak hanya Euis, tertatihnya perjuangan keluarga ini untuk mempertahankan kehidupannya yang semula utuh dengan kemapanan, diperlihatkan melalui tokoh Abah. Abah yang akrab dengan kerja kontraktor pun sempat kehilangan kepercayaan diri sebagai kepala keluarga karena merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan yang mencapai standar layak seperti kondisi mereka sebelumnya. Terpukulnya Abah yang berterus terang terhadap perasaan menjadi titik balik Euis menyadari bahwa kebahagiaan bukan bergantung pada kekayaan tapi pada kepercayaan dan kasih sayang tiap anggota keluarga untuk saling support apapun rintangan yang akan mereka hadapi nantinya.

Respon Abah yang marah melihat Euis menggagalkan Abah untuk tandatangan surat jual beli tanah mereka karena tidak ingin pindah ke Jakarta

 

Plot twist yang sungguh mahal ketika Yandy hampir menggiring kita sebagai penonton untuk berpikir bahwa Abah sekeluarga akan meninggalkan desa dan kembali ke Jakarta. Detik itu saya berpikir Euis pastilah menjadi orang yang paling berbahagia menyambut kabar itu. Ternyata saya salah. Euis dan adiknya, Ara, menggagalkan rencana Abah yang hendak menjual rumah untuk mengembalikan hidup mereka seperti sedia kala, menjadi orang kota lengkap dengan atributnya.

“Kalian semua itu tanggungjawab Abah.”

“Lalu Abah tanggungjawab siapa?”

Such a heartwarming movies for me.

Emak yang berusaha menenangkan Abah dan meyakinkan Abah bahwa tidak ada yang menyalahkan Abah atas kondisi mereka yang sekarang ini

 

Belum berhenti membuat saya berdecak kagum akan kemampuannya mendeliver emosi dan menyiratkan pesan dalam karya, Yandy kembali berulah melalui shortmovie dibawah naungan Visinema Pictures, yang diproduseri oleh Angga Dwimas Sasongko. Client mereka saat itu adalah salah satu perusahaan air mineral terkemuka di Indonesia. Berbekal brief #TemukanIndonesiamu, Yandy mengangkat tema Indonesia itu Rumah. Bukan bermaksud membandingkan. Tapi harus saya akui, dari 7 sutradara dalam shortmovie besutan Visinema tersebut, kualitas storytelling dan sinematografi paling mampu mencuri perhatian saya.

Dalam series tersebut, Yandy menghadirkan sosok rumah di sebuah pelosok desa di Kalimantan yang terbilang jauh dari pusat perkotaan di Makassar. Bukan tanpa sebab Yandy membawa nuansa Kalimantan lengkap dengan nuansa damai hilirnya sungai yang memanjang dan hamparan sawah. Keramahtamahan Ibu dan penduduk desa yang tidak ditemui sang tokoh utama di kota, mengantarkan klimaks dan berujung konklusi yang mendamaikan. Keinginan seluruh anggota keluarga, kecuali Ibu, untuk pindah ke kota dengan alasan penghidupan lebih baik akan mereka dapatkan disana, terpatahkan dalam akhir cerita yang disampaikan Yandy.

 

Desa bukan berarti sengsara, karena kota bisa juga memiliki banyak alpa. Sisi humanis dan kebudayaan yang erat sekali dalam menghargai sesama menjadikan desa menjadi sesuatu yang juga layak untuk diperjuangkan, seperti halnya kita mendamba sebuah kehidupan ideal.

Eksistensi dan aktualisasi diri tidak sebatas terwujud pada masalah desa atau kota. Ini hanya tergantung bagaimana kita memaknai dan mentransformasikan energi menjadi kerja-kerja nyata yang sama-sama memiliki dampak luar biasa.

Untuk saya, Anda, siapa saja, yang sedang berkeinginan di Jakarta, mungkin ada baiknya menonton karya Yandy Laurens terlebih dulu. Agar kembali kita bertanya pada diri sendiri, siapa sebenarnya yang mampu menerima kita bukan karena akal kecerdasan yang berujung pencapaian berbuah penghormatan, tapi karena ketulusan yang murni hadir dalam sebuah hubungan.

Beriklan Disini Beriklan Disini