Perpustakaan Riwayatmu Kini
Sumber Gambar : Redaksi Aksaraku

Asalkan memiliki smartphone dan akses internet, segala informasi yang kita butuhkan saat ini bisa didapat dengan mudah dan cepatnya. Mau mencari tahu resep membuat mi ayam? Atau sekadar mencari cara bagaimana menulis sesuai ejaan yang disempurnakan? Tidak seperti dulu yang perlu membuka buku setebal bantal, kini mencari informasi cukup dengan sekali usapan jari.

Kalau dipikir-pikir, betapa menyenangkan hidup para generasi millenial ini. Nggak perlu-perlu amat bawa buku untuk menulis, karena di gawai yang mereka miliki sudah tersedia aplikasinya tersendiri. Jika bosan dan ingin membaca buku, pun mereka bisa membaca e-book langsung dari gawai masing-masing.

Tapi siapa sangka, justru kemudahan yang selama ini tersedia bisa menjadi bumerang bagi beberapa hal yang masih bertahan secara konvensional. Salah satunya yang dipengaruhi ialah keberadaan perpustakaan. Makin hari, perpustakaan yang ada di daerah makin sepi.

Menurut data yang dihimpun dari Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta, tingkat kunjungan ke perpustakaan daerah di Kulon Progo memiliki presentase terendah kedua setelah Gunung Kidul. Pada tahun 2014, terdapat 89.195 pengunjung. Angka ini naik pada tahun 2015, mencapai 101.515 pengunjung. Kenaikan tersebut berulang pada 2016, dengan perolehan kunjungan dari 118.786 orang. Namun sayangnya, data kunjungan tersebut mengalami penurunan pada tahun berikutnya. Perpustakaan daerah di Kulon Progo hanya didatangi 53.190 orang sepanjang tahun 2017.

Realita ini tak terelakkan lagi. Terlebih bagi perpustakaan-perpustakaan yang enggan berinovasi. Dulunya digemari sebagai ‘surga’ bagi para pecinta buku, kini perpustakaan seakan menjadi bangunan kuno yang mendadak tak memiliki daya.

Tak dipungkiri, kelengkapan fasilitas merupakan salah satu faktor yang mampu menarik pengunjung datang ke perpustakaan. Koleksi buku yang lengkap, ruang baca yang nyaman, serta ketersediaan akses internet seolah menjadi standar minimum perpustakaan idaman.

Namun, di era kemudahan informasi seperti saat ini, hal itu belum cukup. Digitalisasi menjadi hal yang dinanti-nanti. Pembaca buku seolah tidak punya banyak waktu untuk menelusuri rak dan memindai isi buku. Keberadaan mesin pencari koleksi serta buku dalam format digital menjadi kebutuhan generasi pragmatis saat ini.

Hei, bukannya berada di dalam perpustakaan bisa begitu menyenangkan? Kita bisa sejenak rehat dari hiruk-pikuk rutinitas dan menenggelamkan diri dalam sunyi. Mengunjungi perpustakaan tidak hanya bisa kita lakukan saat butuh buku sebagai sumber informasi, tapi juga bisa sebagai tempat hiburan alternatif.

Nggak percaya? Coba kunjungi perpustaakan terdekat dari rumahmu, pilih satu buku yang sekiranya menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Jauhkan gawaimu sebentar, dan tenggelamlah bersama tiap bait tulisannya.

Pada akhirnya, internet memang menyediakan jawaban atas segala pertanyaanmu, tapi buku dan perpustakaan bisa melengkapi jawaban tersebut. Yuk, ke perpustakaan! 

Baca Juga : Spot Favorit untuk Iklim Baca yang Asyik

Beriklan Disini Beriklan Disini