Resensi Gadis Pantai, Merdeka Sejak dalam Pikiran
Sumber Gambar : Google

“Dan hidupku bukan hanya seonggok daging bertulang. Kalau hanya sekedar makan, babi di hutan juga makan. Kalau hanya sekedar hidup, semua juga hidup..”

Giliran menikah saja, banter sekali kalau memaksa. Nikah sama Bendoro yang seharinya bersemayam di gedung besar, bertahtakan singgasana, berjalan layaknya priyayi yang make selop sana sini, sudah dianggep suatu hal yang wajar. Bakalane koe yo nikah, Nduk. Rabi o karo sing ndue negara, ro bangsawan sing iso nyuguhi bahagia. Begitu sabdanya.

Tak peduli hamba sahaya, cucu buruh pabrik gula, maupun anak nelayan miskin sekalipun, kalau saja utusan datang ke gubuk untuk mengambil salah seorang gadis sebagai ‘peraduan hati’ bangsawan, rela pula dilepaskan buah hatinya itu.

Rupanya perihal ini yang menjadi permulaan kisah si Gadis Pantai, seorang bunga desa di sebuah perkampungan nelayan pinggir pantai Karesidenan Jepara Rembang. Usianya masih empat belas tahun, kala ia dinikahkan dengan seorang Bendoro dengan perantara sebatang keris. Jerat kemiskinan nampaknya membuat sang Bapak rela menyerahkan anaknya ke sesiapa yang “berkuasa”. Supaya berubah nasib, pikirnya.

Alih alih berbakti kepada orangtua, Gadis Pantai pun bersedia dipersunting olehnya, si Bendoro. Namun, pernikahan yang semestinya membawa kebahagiaan seperti yang diwejangkan oleh Mak nya dulu rupanya tak sejalan. Jangankan bermain dengan putra Bendoro, bekerja pun tak diperbolehkan. Bahkan untuk sekedar tanya pun, enggan. Terlebih ketemu sama Bapak-Mak..

Seperti menyiksa seorang tahanan secara perlahan lahan, batinnya.

Kebebasan tak lagi ia dapatkan layaknya di kampong tempatnya dulu tinggal. Berlari di pantai hingga tawa menggelegarnya bisa menantang derasnya ombak bahkan sudah menjadi riwayat semata. Kerjanya hanya mengabdi, mengabdi, dan mengabdi kepada Bendoro.

“Lantas milik perempuan itu sendiri apa?”

“Tidak ada, Mas Nganten. Dia sendiri hak milik lelaki.” – Gadis Pantai, hlm 88.

 NoveL Gadis Pantai

Jadi “peraduan hati” seorang Bendoro rupanya tak melulu dibalut kebahagiaan. Nyatanya, rindu saja ia harus tahan. Memang, niat mengabdi hingga mencintai itu sudah ia tumbuhkan, jauh sebelum kakinya menginjak lantai istana, mengisi singgasana bak ratu sang raja, padahal hanya “pemuas” belaka. Namun, tak dapat dipungkiri kebebasannya terampas, teronggok begitu saja. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Rupanya Bendoro dianggap masih perjaka, sedangkan Gadis Pantai hanyalah selir, karena berasal dari keluarga yang tidak sederajat. Seolah belum cukup sakit hatinya, berhadapanlah ia dengan kenyataan bahwa dirinya dibuang usai melahirkan buah hatinya.

            Gadis Pantai merupakan sebuah unfinished story. Begitu yang tertulis pada pengantar buku setebal 272 halaman ini. Karya Pramoedya Ananta Toer ini sejatinya adalah trilogi. Namun sayang, dua buku lanjutannya dicekal pemerintah pada zaman itu. Beruntung, seorang mahasiswi Australia mendokumentasikannya dan terbitlah buku ini pertama kali pada 1962. Karya sastra yang sarat akan kritik feodalisme Jawa ini telah dicetak berulang kali dalam berbagai bahasa hingga saat ini.

“Kau tidak mengabdi padaku man, tidak, man. Kalau kau cuma mengabdi padaku, kalau aku tewas kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi?” – Gadis Pantai, hlm 120

            Praktik perbudakan dan penghambaan kiranya masih awet hingga kini. Raganya mungkin sudah merdeka, namun nuraninya masih sengsara. Setiap orang belum merdeka dengan caranya sendiri. Masih saja kita menyembah, menagungkan diri terhadap hal-hal yang dianggap dapat menaikan prestise. Seakan hamba yang butuh kuasa atas dirinya. Padahal menyoal status tentu tidak selamanya dapat membawa kebahagiaan pada diri sendiri. Naifnya, risiko dipandang rendah oleh orang lain seakan cukup membuat kita mati-matian usaha naik kasta.

            Gadis Pantai mengajak kita menilik realita sosial zaman kolonial yang nyatanya masih ada hingga sekarang. Pemaksaan diri untuk derajat setara dengan yang dianggapnya “wah”, memutar otak untuk meraihnya dengan segala cara. Sepele, hanya ingin terpandang saja. Bukankah sejatinya kita memang sederajat? Hamba Tuhan, bukan?

Terlebih, apa jadinya bila kita memanfaatkan kekuasaan demi kepuasan pribadi. Bendoro yang merupakan seorang bangsawan boleh jadi berakal dan taat beragama, siapa sangka perilakunya sejengkal pun tiada pantas diteladani, bergonta-ganti ‘istri’ demi pemuasan hawa nafsu belaka, lalu merasa masih perjaka jika belum bernyonya yang sederajat dengannya.

Quote

            Refleksi semacam ini tentu mustahil tidak ada. Hanya saja, kemasannya sedikit berbeda di zaman yang sudah kita anggap “merdeka” ini. Goresan tangan Pramoedya ini membuka mata kita akan eksistensi feodalisme bangsa sendiri. Tak kasat mata, namun sama buruknya dengan kolonialisme Belanda. Dengannya, Pramoedya mengajak kita untuk memanusiakan manusia tanpa memandang perbedaan. Pada akhirnya, sampailah kita di titik pertanyaan, apa benar sudah terlepas dari penjajahan?

 

Judul               : Gadis Pantai

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara, Jakarta

Cetakan           : IV, Maret 2007

Tebal               : 272 hlm

Beriklan Disini Beriklan Disini