Sarung Untuk Ayah
Sumber Gambar : http://cdn2.tstatic.net/medan/foto/bank/images/ilustrasi-kakek-sarung-2.jpg

Minggu kedua di bulan Ramadhan tak jauh berbeda dengan minggu sebelumnya. Kompleks masih saja dipenuhi dengan suasana sore yang hiruk pikuk dengan TPA,tak luput suasana tarawih dan tadarus Qur’an melekat dalam nuansa. Siang yang terik itu membawa hasrat, ya, biasa.Apa lagi hasrat dari orang yang tengah berpuasa? Aku rasa hampir semua sama. 

Aku berbaring, berusaha memejamkan mata. Sedetik aku baru saja terlena dengan kenikmatan udara yang menerpa wajahku melalui jendela. Hampir saja mimpi ini merasuk, membelenggu tak sadarkan jiwa ketika kudapati cipratan air sepertinya menyentuh mulut.

“Uhuuk.. apaan nih. Asin banget.”

Ibuku tertawa melihatku beringsut membuka mata sambil mencerca.

“Makanya kalo waktu adzan itu jangan tidur. Ambil air wudhu. Sholat. Daripada kena air garam? Enakan mana? Air wudhu kan?”

“Ibu iseng banget sih pake air garam segala. Nggak ada yang manis apa?”

“Ada, kalo kamu bikinin Ayah teh..”

“Ayah di rumah Bu?”

Ibu terdiam, mengernyitkan dahi. Aku masih tak paham dengan isyaratnya.

“Iya deh iya, aku ambil air wudhu nih.”

Halaman mushola masih lengang ketika kudapati iqomah belum berkumandang. Kemana perginya orang orang?

Ayah kemudian maju, memberiku isyarat untuk menyuarakan iqomah, tanda sholat segera dimulai.

“Qad qaamatish shalaah Qad qaamatish shalaah..

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaaha ilallah...!!”

Tiba tiba shaf di belakang penuh, kerumunan orang berjejal memasuki shaf.

Heran. Bisa sekompak itu. Apa yang tengah mereka lakukan di luar sana?

“Yah, kenapa warga kampung sini aneh ya?”

“Aneh gimana?”

“Baru baru ini banyak banget yang tiba tiba memenuhi mushola. Dan mereka datangnya bersamaan.”

“Loh, bukannya bagus kalau begitu?”

“Ya tapi kayak ada sesuatu yang menggerakkan mereka untuk tiba tiba sholat di mushola. Padahal kan biasanya kalo waktu Dzuhur atau Ashar gini waktu sibuk-sibuknya mereka, bapak-bapak yang lagi kerja. Entah itu di sawah atau di kota.”

“Ikut Ayah sholat Subuh di mushola ya besok.”

Aku terdiam, memperhatikan Ayah yang pergi melenggang, seolah pertanyaan yang tadi hanya ladang kicauan seorang bocah yang tengah girang.

Di hari berikutnya, aku cukup terperanjat lagi. Adzan belum berkumandang namun banyak orang yang sudah datang, memenuhi barisan depan hingga belakang. Aku hampir malu dengan diriku yang menyengaja terlambat. Ayah sudah membangunkanku, tapi hangatnya selimut masih menggelayuti alam bawah sadarku hingga akhirnya Ibu kembali mencipratkan air garam ke bibir ini.

Sungguh, aku akan familiar dengan garam kalo begini terus caranya.

Seusai sholat pun, tak ada yang sama sekali beranjak dari tempatnya. Semuanya terdiam, menunggu kultum yang dinanti-nantikan. Seperti biasa, Ustadz Burhan yang mengisi. Heran bukan main. Dari dulu memang Ustadz Burhan yang seolah menjadi “imam besar” mushola kampung ini. Tapi jamaah selalu hanya berkutat dengan jumlah satu shaf jika waktu Subuh. Paling banyak dua shaf. Baru kali ini kudapati 6 shaf dihuni oleh barisan pemuda dan bapak-bapak hingga yang sudah lanjut usia.

Di perjalanan pulang, aku berlari menyejajari langkah Ayah.

“Loh kamu jadi ikut to, Dan? Ayah pikir kamu sholat di rumah sama Ibu. Hahaha..”

Aku merengut, “..kan Adlan cowok Yah. Masak sholat di rumah. Nggak keren kan kata Ayah.”

Beliau mengacak acak rambutku yang belum sempat kusisir setelah bangun.

“Yah?”

“Hmmm..”

“Kenapa mushola jadi rame banget sih tadi? Padahal terakhir kali Adlan sholat Subuh, jamaahnya masih dikit. Bisa diitung. Paling cuma 3 atau 4 orang termasuk kita sama Ustadz Burhan.

“Masa sih? Kamu kan jarang banget sholat jamaah waktu Subuh di mushola lagi.”

Aku tersenyum menunduk.

“Jangan sombong ya Nak. Belum tentu mereka yang tidak bisa menjalankan sholat Subuh berjamaah itu tidak lebih baik dari kita yang diberikan kemudahan dan kesempatan.”

“Iya Yah Adlan tau. Kan heran aja..”
“Nanti Adlan juga tau sendiri.”

“Tuh kan Ayah sok misterius. Berasa udah jago ya bikin Adlan penasaran”

Gerutuku sambil menendang kaki Ayah. Ayah hanya bersungut, memberiku tendangan balik.

Pagi itu burung berkicau dengan nyaring. Suasana hening ketika tiba tiba Ibu memanggilku dari kejauhan. Aku yang sedang menyuci motor di halaman rumah seketika berlari menuju sumber suara. Kudapati Ibu yang terisak di ruang tengah, beliau hanya memberiku aba, “Ayah harus dibawa ke Rumah Sakit.”

Alhasil, ambulans datang membopong tubuh Ayah yang sudah lunglai tak berdaya. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh. Ayah masih saja tenang, bersikap seolah tak ada apa-apa. Sambil mengatur napasnya yang tersengal, Ayah hanya menatap Ibu sambil berkata, “Tak apa. Semua baik baik saja.”

Tiga hari Ayah dirawat di Ruang ICU. Jantungnya kembali meminta untuk dilirik secara intensif. Apa boleh buat, waktu Ibu banyak dihabiskan di Rumah Sakit. Selama 3 hari itu pula, banyak warga yang bedatangan hilir mudik keluar pergi menjenguk. Membawakan buah, makanan, bahkan selimut untuk Ayah. Aku sampai terharu menyaksikannya. Ayah bukan pemuka agama dan tokoh masyarakat yang disegani, Beliau hanya sosok lelaki yang banyak diam dan berbicara jika memang diperlukan. Entah gerangan apa yang menggerakkan hampir semua warga terutama bapak-bapak di kampung untuk tak henti-hentinya kemari.

Waktu itu aku masih di sekolah, menuntaskan beberapa tugas sembari menunggu detik detik pengumuman SNMPTN. Tak ubahnya dari siswa lain yang harap-harap cemas, aku berusaha menenangkan syaraf. Sedetik, dua detik lima detik. Layar laptop masih belum menunjukkan signal apa-apa. Kultur-nya selalu sama setiap tahun. Banyak siswa yang langsung berhamburan ke ruang BK, menunggu dengan sabar sembari berharap datangnya keajaiban, bahkan tak sedikit yang menunggu sambil menunaikan sholat Dhuha. Namun ada juga yang masa bodoh dan memilih untuk bersenda gurau di kantin belakang.

“Tiga dua satu.. yes! Web nya udah bisa dibuka!”

Serentak, kami tak ubahnya pasukan yang dibombardir oleh sebuah website.

Aku masih ragu dengan hasilku sendiri. Kubaca berulang ulang, Lagi. Kubaca, sekali lagi. Setelah tiga kali kubaca, barulah aku mengucap hamdalah. Gmebira tiada tara memenuhi dada hingga ini sesak. Entah aku harus bercerita ini bagaimana, yang jelas aku merasa sangat bahagia.

Tak lama kemudian, guru BK memanggilku dengan raut yang berbeda. Aku bertanya-tanya, apakah Beliau mungkin kecewa dengan hasil yang kudapat? Ternyata jauh di luar dugaan, aku mendapat kabar yang tak disangka-sangka.

“Ayahmu dipanggil ke pangkuan Allah, sejam yang lalu, Dan.”

Sontak, kegembiraan yang ku luapkan berubah menjadi mendung yang tak terbendung. Tangisku pecah saat itu juga. Aku berlari secepat mungkin, mengabaikan segala yang ada di depan mata. Pikiranku hanya tertuju pada satu nama. Ayah

Suasana di rumah sakit sedkit mencekam, kurasa. Aku tak melihat secercah senyum di wajah siapapun yang ku temui. Isak tangis yang sedari tadi ada perlahan mulai menghilang, berganti dengan ketegaran hati dari suatu kehilangan yang bisa dibilang sangat tak disangka akan secepat ini.

Tiba tiba tanganku ditarik oleh seseorang. “Dan, kemari sebentar. Bapak mau ngomong..”, ujar Ustadz Burhan.

Aku menurut, meninggalkan lingkaran duka yang tersisa.

“Adlan pasti tau kalo Ayah sangat sayang sama Adlan, kan?”

Aku mengangguk.

“Meski sedikitpun Ayah tak memberi tau Adlan mengapa dia sering sekali tidak berada di rumah?”

“Ya. Karna Ibu bilang, Ayah ada pekerjaan yang lebih penting. Dan Adlan harus percaya sama Ayah kalau Ayah punya hadiah untuk Adlan di hari pengumuman ini..”

Aku masih tak bergeming. Berusaha mencerna kalimat Ustadz Burhan. Sulit sekali menjernihkan pikiran dan berpikir di saat seperti ini. Apa yang hendak diutarakan oleh Ustadz? Seperti aku hanya ingin kembali ke ranjang di tempat Ayah berbaring.

“Kamu tau Dan? Ayahmu adalah sosok takmir yang luar biasa. Beliau berharap mushola kecil ini akan makmur dengan jamaah yang berbondong bondong memenuhi panggilan sholat, terutama di waktu Subuh. Itu cita cita beliau sejak dulu..”

Kulihat air mata menggenang di pelupuk mata Ustadz. Beliau menarik napas, berusaha mengatur ritme suara agar tak terdengar seperti pohon yang meranggas. Kering, tandas.

“...Ketika malam, beliau datangi setiap rumah, setiap pos ronda, tempat dimana bapak bapak di kampung ini menghabiskan waktu untuk minum bir, bermain kartu, bahkan judi. Ayahmu memberikan sarung pada setiap lelaki yang ia temui di pos ronda. Awalnya apa reaksi mereka? Adlan pasti tak akan menyangka.”

Kini, giliranku yang tercekat. Tenggorokanku serasa bersekat.

“Mereka melempari Ayahmu dengan kartu untuk bermain, tepat di depan mukanya. Bahkan mengembalikan sarung yang Ayahmu bagikan, sembari mengatakan kata-kata yang menurut saya, itu sungguh tak pantas untuk dikatakan untuk seorang Pak Sodik.”

Aku masih terdiam, mengatur irama detak jantung yang semakin cepat. Alhasil, pelupuk mata sudah tak mampu membendung air yang menetes perlahan keluar.

“Ayahmu tetap melakukan hal yang sama selama berhari hari bahkan beberapa minggu secara kontinyu. Tak hanya satu pos ronda, tapi seluruh pos ronda di kampung ini. Bayangkan, berapa banyak sarung yang telah beliau sediakan untuk mereka, yang selalu ditolak dengan respon sama dan dikembalikan dengan cara yang sama.”

Lelaki yang kini berdiri di hadapanku kini terlihat sekali berusaha menahan air mata yang segera jatuh membasahi pipi. Lima detik. Tak ada suara apapun di antara kami berdua. Hanya isak yang terus terdengar.

“Entah apa yang menggerakkan warga pada akhirnya, tiba tiba mereka selalu berbondong bondong tatkala ada seruan adzan Ayahmu kumandangkan. Ingin sekali Bapak bertanya ke Ayahmu, apa yang membuat beliau bisa bertahan sedemikian lama dengan ikhtiarnya itu. Dan baru saja Bapak menyadari itu, ketika hal itu diceritakan oleh Pak Nurdin tadi..”

“Ayahmu selalu membawa suasana sholat berjamaah di pos ronda. Mengajak mereka yang tadinya sama sekali tidak mau tersentuh hingga pada akhirnya, lambat laun, semua menjadi tergerak hatinya. Melihat Ayahmu yang selalu menjadi imam secara bergantian di tiap pos ronda di kampung ini. Imam saat sholat Subuh. Sungguh, Bapak tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengarnya..”

“Hingga pada akhirnya, banyak dari mereka yang selalu istiqomah menunaikan sholat berjamaah di masjid, minimal sholat Subuh. Masha Allah..”

Kini, aku tertuduk lemas. Menangis di pelukan Ustadz. Ayah, jadi inikah alasan Ayah selama ini?

Ustadz Burhan menyeka air mata beliau. Kembali menegakkan tubuh, menepuk pundakku. Aku merasakan kehangatan yang sedikit mengalir.

“Nak, kau harus bangga dengan Ayah. Beliau mengajarkan Bapak apa arti dakwah sebenarnya. Bukan melulu soal ceramah di mimbar, tapi juga menyentuh hati dengan hati. Karna itulah dakwah yang diajarkan Rasulullah..”

Ustadz tiba tiba beranjak dari tempat duduk, meninggalkan aku yang masih terdiam mengatur napas, mengola emosi yang semakin memuncak. Sungguh aku tak peduli dengan apapun yang ada di koridor ruang tunggu saat itu. Dalam hati, aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan Ayah. Menjaga sholat Subuh berjamaah di mushola.

Terbersit satu kalimat yang sempat aku abaikan ketika aku rela begadang demi menonton pertandingan MU dan keesokannya saat adzan Subuh sangat susah untuk dibangunkan, “Adlan, dua rakaat di waktu itni sungguh lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Kuputuskan untuk kembali dengan semangat baru saat kembali ke ruang dimana Ayah masih berbaring. Ingin sekali aku mencium beliau, mengecup keningnya, bahkan mengucapkan terima kasih. Langkahku terhenti sewaktu berdiri mendapati sebuah bingkisan yang tak sepertinya sudah tak asing lagi. Sarung? Punya siapa? Celingak celinguk aku berusaha meyakinkan apakah benar ini untukku. Aku tersenyum, menyeka setiap sisa air mata.

(Klaten, 30 Juni 2016, dari jamaah ikhwan Mushola Darussalam, untuk Pak Sodik yang luar bisa berjasa)

Sungguh, kejayaan Islam akan bangkit apabila jamaah sholat Subuh sama dengan jumlah jamaah sholat Jum’at

“Dan jika mereka mengetahui apa yang tersimpan di dalam shalat Subuh dan Isya, maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Beriklan Disini Beriklan Disini