Sex Education: Perlu Edukasi, Bukan Tabu Eksploitasi
Sumber Gambar : Redaksi Aksaraku

“Pendidikan seksual sangat penting diberikan kepada anak sejak usia dini.”

Dengung kalimat itu sudah terngiang berapa kali di telinga. Tak khayal ubahnya seperti slogan KB “Dua anak lebih baik” yang pasti sudah sangat familiar di benak kita. Tua muda miskin kaya pasti pernah sekilas terusik denganya. “Pendidikan seks” atau sex education. Hanya tau, pernah mendengar, atau sangat paham menjadi sangat samar untuk dikenali, karena kata itu hanya lewat bagai kabar diterpa angin. Pernah hinggap, tapi tak pernah merasa. Pernah mendengar, tapi setengah ingkar.

Lalu, seberapa paham kah masyarakat kita akan sex education?

Sex Education

Perlu diketahui bahwa pendidikan seksual semata mata bukan hanya mengulas bagaimana cara berhubungan seks dan pencegahan kehamilan. Pendidikan seksual juga menyangkut segala edukasi yang berhubungan dengan jenis kelamin. Edukasi ini juga meliputi berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat mulai dari tingkah laku seksual, peran gender, aspek kesehatan reproduksi, hingga kejiwaan.

Sayangnya, pengetahuan ini belum seutuhnya dipahami oleh masyarakat kita. Sebagian besar orang tua masih merasa tabu untuk membicarakan tentang hal-hal berbau seksual kepada putra-putrinya.

“Kamu belum saatnya tahu hal itu,”

“Nanti kamu juga akan tahu kalau sudah dewasa,” adalah sebagian jawaban klise yang orang tua lontarkan saat tidak siap menerima berbagai pertanyaan dari anak terkait asal-usul mereka.

Padahal, anak perlu diarahkan untuk belajar mengenal darimana bayi berasal, bagaimana cara bersikap dengan lawan jenis, serta beragam aspek kesehatan reproduksi lain yang nantinya akan memudahkan perjalanan dunia remaja mereka. Tak hanya itu, pendampingan dari orang tua sejak dini akan meminimalisir terjadinya tindakan kekerasan seksual yang akhir-akhir ini marak terjadi di dunia anak.

Dinas Kesehatan Kulon Progo pada 2011 lalu merilis hasil Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Pada pelayanan kesehatan reproduksi terhadap 12.056 remaja menunjukkan bahwa terdapat kekerasan terhadap anak (KTA) sebanyak 23 kasus dan kehamilan tidak diinginkan (KTD) dengan usia di bawah 18 tahun sejumlah 49 kasus.

“Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seksual untuk anak sangat penting diupayakan.”

Di Kulon Progo sejak tahun 2014 telah terbit peraturan bupati tentang materi kesehatan reproduksi sebagai muatan khusus ke dalam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga dari jenjang SD sampai SMA/SMK. Akan tetapi, dalam praktiknya masih banyak sekolah yang belum memberlakukan pemberian materi Pendidikan Jasmani dan Olahraga yang mencakup kesehatan reproduksi.

Sejak kecil anak perlu dibiasakan untuk mengenal tubuhnya. Seiring beranjak dewasa, pemahaman yang diberikan orang tua juga perlu ditingkatkan seiring mengkritisnya daya pikir anak. Anak-anak yang menerima pendidikan seksual sejak dini cenderung lebih dekat dengan keluarga dan terhindar dari perilaku seks berisiko.

Tak dapat dipungkiri, remaja yang tidak memiliki hubungan dekat dan komunikasi yang baik dengan orang tuanya cenderung lebih rentan untuk “liar” dan melanggar. Orang tua sebaiknya sadar sejak awal bahwa akan tiba saatnya anak mereka akan menanyai hal-hal terkait perilaku seksual, hingga tak perlu lagi adanya “blindness” atau ketidaktahuan anak mengenai wawasan seksual.

Sejak usia 4-5 tahun, kemungkinan anak menanyakan darimana mereka berasal sudah ada. Orang tua cukup menjawab dengan sederhana saja. Hindari memberikan jawaban yang mengada-ada, karena akan memperbesar kemungkinan anak mencari jawaban lain dari sumber yang kurang bisa dipercaya. Era teknologi yang membawa kemudahan berselancar di dunia internet membuat siapa saja dapat mengakses informasi apapun. Apabila hal ini terjadi pada anak tanpa pendampingan orang tua, maka besar risiko yang dapat terjadi.

Pemberian pendidikan seks sejak dini sangat membantu anak untuk meminimalisir perilaku seks berisiko. Jika sekolah saja enggan menaati peraturan yang telah dibuat pemerintah, dan lingkungan keluarga juga belum merasa perlu memberi pendidikan seks pada anak, lantas darimana anak akan belajar semua itu? Tentu kita tidak berharap anak-anak mencari sendiri jawaban atas pertanyaan mereka melalui internet, bukan?

Aksara Lainnya : Terbebas dari Ancaman Kekerasan Mental pada Anak

Beriklan Disini Beriklan Disini