Srawung Aksaraku, Menyambangi Alam dengan Semangat Literasi
Sumber Gambar : Redaksi Aksaraku

Semangat untuk menumbuhkan kecintaan di dunia literasi Kulon Progo kini digaungkan oleh muda-mudinya. Gelaran acara bertajuk Srawung Aksaraku ini berangkat dari kurangnya wadah bagi pemuda Kulon Progo untuk mengasah kecintaannya dalam bidang kepenulisan.

Komunitas Aksaraku mengadakan sesi lokakarya pertama ini dengan mengangkat tema Menghidupkan Kulon Progo Melalui Tulisan. Tema ini sedikit merefleksikan kondisi terkini di Bumi Menoreh, di mana masih kurangnya wadah bagi pemuda untuk saling berdiskusi terkait kepenulisan hingga menyalurkan karya. Hingga saat ini, terbilang baru segelintir anak muda Kulon Progo yang telah menghasilkan karya yang sudah dikenal luas, apalagi yang berbentuk buku.

Melalui kegiatan yang terselenggara pada Minggu (11/02) lalu, Aksaraku berharap dapat menjadi wadah diskusi bagi pemuda-pemudi Kulon Progo yang memiliki minat dalam dunia penulisan dan literasi. Menariknya, Srawung Aksaraku #1 kemarin dilaksanakan di Hutan Suaka Sermo dengan konsep di luar ruangan dan menyatu dengan alam. Tak hanya digarap dengan konsep back to nature, bisa dibilang workshop kepenulisan ini adalah yang pertama terselenggara di hutan. Bahkan di tengah hening dan sejuknya area Hutan Suaka Sermo membuat puluhan peserta yang hadir nampak antusias mengikuti jalannya acara tanpa interupsi dari ponsel pintar masing-masing.

“Memang harapan kami untuk menyelenggarakan kegiatan dengan konsep yang sederhana, tetapi ilmunya dapat diterima, daripada acara megah namun kita tidak dapat memperoleh esensinya,”

jelas Zulfikar M. Reza selaku pembawa acara ketika mengutip harapan dari pihak penyelenggara Srawung Aksaraku.

Disamping itu, atas izin Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Hutan Suaka Sermo juga dapat menghidupkan potensi alam di Kulon Progo, yang ternyata juga dapat dijadikan sebagai ruang belajar.

Tak hanya konsep yang berbeda, dalam diskusi pertama oleh Bayuarga Damar, para peserta juga diajak untuk memiliki kesadaran berkarya. Dimana karya yang baik adalah yang karya yang mempunyai kebermanfaatan serta kemaslahatan untuk orang lain. Minimal untuk diri sendiri. Dan melalui literasi atau tulisanlah kebanyakan karya berawal. Baik puisi, lagu, film dan lain sebagainya. Serta goalnya adalah karya yang mempunyai dampak positif bagi penikmatnya.

Diskusi Bersama Bayuarga Damar

Ketika kesadaran untuk berkarya telah tumbuh, maka disambung dengan diskusi selanjutnya oleh Lajeng Padmaratri, seorang Pimpinan Redaksi Pers Mahasiswa di salah satu universitas di Yogyakarta, dengan tema teknis kepenulisan dan berbagi pengalamannya selama berada dalam keredaksian.

Sesi diskusi bersama Lajeng Padmaratri

W.N. Naufal, penulis buku 100 Tahun Setelah Aku Mati, dalam sesi diskusinya berbagi kiat-kiat mengirimkan karya ke media maupun ke penerbit. Ia berpendapat, penulis tidak harus selalu mengikuti selera pasar dalam berkarya, karena media alternatif akan selalu tersedia. Naufal juga menegaskan bahwa setiap tulisan perlu dilatarbelakangi dengan riset yang mendalam.

WN Naufal

Sesi diskusi bersama WN. Naufal

Penulis asal Sentolo ini bahkan sangat berbahagia ketika diminta berbagi kepada peserta Srawung Aksaraku. “Ini pengalaman pertama saya bercerita tentang buku saya di tanah kelahiran sendiri,” ujarnya. Tak hanya disukai para pembaca, novel 100 Tahun Setelah Aku Mati rencananya juga akan diangkat ke layar lebar.

Berbeda dengan Bayu, Lajeng dan Naufal, Dyar Ayu Budi Kusuma berbagi pengalamannya ketika menjadi penulis lepas untuk tulisan artikel di sebuah media online. Melalui media online tersebut, Dyar dituntut untuk peka terhadap fenomena anak muda, bahkan selalu diburu waktu oleh tenggat harian. Meski terkadang bosan menulis, ia selalu menyiasatinya dengan membaca buku atau tulisan-tulisan di media online untuk membangkitkan inspirasinya.

Diskusi media online, Dyar Ayu Budi

Peserta yang hadir didominasi oleh pelajar dan mahasiswa asal Kulon Progo. Mereka berharap agenda ini dapat berlangsung dengan berkelanjutan, sehingga masing-masing peserta dapat saling berbagi mengenai dunia kepenulisan satu sama lain.

Sesi foto bersama dalam acara Srawung Aksaraku

Warta Lainnya : Hamemayu Hayuning Karangsari, Kanthi Nguri-Uri Kabudhayan Jawi

Beriklan Disini Beriklan Disini