Toleransi yang Sudah Matematika Ajarkan
Sumber Gambar : Redaksi Aksaraku

Toleransi baru-baru ini muncul kembali sebagai isu yang hangat dibicarakan. Toleransi yang sebenarnya sederhana  namun jadi sesuatu yang rumit. Padahal dari SMP dan SMA kita sudah diajarkan tentang toleransi. Lha wong tinggal diterapkan aja apa susahnya. Mungkin yang belum bisa menerapkan dulu sering bolos pelajaran. Tidak apa, saya juga sering bolos dulu. Jangan bilang Bapak saya. Nanti kamu nggak selamet pulangnya *ketawa jahat

Toleransi sebenarnya adalah istilah dimana kita menghargai dan menghormati suatu perbedaan. Secara istilah memang sederhana, tapi menjadi sulit ketika harus menentukan yang mana saja yang bisa ditoleransi. Batas batas apa sih yang sudah dikatakan kelewat toleransi? Kerumitan tersebut dikarenakan toleransi tidak bisa diukur, maka dari itu kita bisa belajar toleransi dari matematika.

Matematika dan Toleransi

“Tapi kan matematika ilmu pasti. Mana mungkin matematika mau menerima toleransi?”

Toleransi

Bukan. Matematika bukan ilmu pasti. Kalau anda bukan anak teknik, sebelum lanjut membaca coba cari, Dia merupakan ilmu kesepakatan. Matematika mengenal banyak sistem bilangan seperti bilangan basis 10 yang biasa kita gunakan, yaitu dari angka 0 sampai 9, bilangan biner yang hanya mengenal 0 dan 1, hingga bilangan basis 16 yang mengenal angka 0 sampai 9 dan huruf A sampai E.

Dalam konsep desimal, oktal dan hexadesimal, hasil 1 ditambah 1 akan menghasilkan 2. Tetapi akan  beda lagi kalau kita menggunakan konsep rules bilangan biner karena bilangan tersebut tidak mengenal angka 2. Tetapi bila disamakan, semua hasil penjumlahan 1 tambah 1 bisa ditafsirkan sebagai 2 dalam semua sistem bilangan, hanya beda bentuknya saja.

Referensi : Konsep Bilangan Biner, Oktal, Desimal, Heksadesimal

Tabel Konsep

Sumber Gambar : Surya Community 7

Toleran dan Intoleran

Lhoh.. Sama saja kan. Matematika tidak menerima toleransi. Lha wong 1 tambah 1 sama dengan 3 aja dianggap salah.”

Benar sekali. Hal tersebut salah tapi bukan berarti matematika tidak mengenal toleransi. Bisa dikatakan bahwa matematika bisa memilih hal mana yang bisa ditoleransi. Menjadi persoalan lucu tentunya, apabila sesuatu yang memang salah itu harus ditoleransi agar hasilnya diterima.

Toleransi di matematika hanya berlaku pada hal yang rumit, contohnya bilangan pi. Ya.., bilangan yang sering kita gunakan untuk mencari luas lingkaran yaitu 3,14159265358979323846264. Melihat saja sudah mawut rasanya. Apalagi jika diminta untuk menghitung luas lingkaran dengan jumlah angka pecahan desimal sebanyak itu. Oleh karena itu, toleransi dalam matematika mulai ada. Pada masa SD, kita mencari luas lingkaran dengan nilai pi sama dengan 3,14, hanya dua angka di belakang koma. Di SMP, nambah 1 angka di belakang koma lagi dan seterusnya sesuai kesepakatan. Hasilnya mungkin tidak sempurna pas di nilai benar tapi hasil tersebut bisa diterima.

“Ohh.. Tapi intinya nanti toleransi harus dibatasi? Kok tadi mulai dari 2 angka di belakang koma?”

Jelas. Toleransi enaknya disesuaikan dengan porsinya. Kalau seseorang terlalu toleran nanti nggak baik. Ibaratnya kamu mau diajak tadarus di masjid sekaligus mau diajak dugem. Akhirnya malah nggak punya pendirian. Orang yang sempit toleransinya juga nggak baik. Ibaratnya dia tidak mau makan selain nasi hingga pizza atau sarimi aja ditolak. Jadilah dia antara ngrepoti orang lain sama ngrepoti diri sendiri. Seperti angka pi tadi. Kalau ngitung pakai angka 3,1 ya nggak tepat pakai angka 3,1415926... Malah ngrepoti. Intinya kalau kita paham matematika, ya nanti bisa menerapkan toleransi dengan benar. Gitu ya Lurd. Wallahualam bi shawab pembaca mudeng. Semoga Tuhan senantiasa tidak membuat pembaca mubeng.

Aksara Terkait : Anak dan Dunia dalam Potret Maya

Beriklan Disini Beriklan Disini