Walau Tak Melawan Penjajah, Mereka Tetap Pejuang Untuk Dirinya Sendiri
Sumber Gambar : Bayu Damar / Redaksi Aksaraku

Raden Ajeng Kartini, seorang perempuan yang keberaniannya setara lelaki, yang kepandaiannya tak patut diragukan lagi, juga, ia yang namanya akan selalu seharum melati. Berkat Ibu Kartini, perempuan Indonesia kini bisa merasakan sekolah setinggi-tingginya, bebas memilih pekerjaan yang diinginkan, dan kehidupannya tidak lagi berkutat pada ‘sumur, dapur dan kasur’.

Walau sudah lebih dari seratus tahun semenjak wafatnya beliau, walau tak lagi melawan penjajah dengan senapan dan bambu runcing, kesulitan yang dihadapi perempuan di era ini juga tidak kalah pelik. Karena yang dihadapi justru segala kemudahan-kemudahan yang disuguhkan teknologi, kenyamanan yang negara asing tawarkan, serta kemalasan yang ada dalam diri.

Seperti halnya yang dihadapi oleh tiga dara asal Kulon Progo. Hidup di zaman yang serba mudah dan menawarkan ‘keindahan dunia’ membuat mereka tidak mau ikut hanyut di dalamnya. Mereka bertiga malah memilih untuk berjuang laiknya Ibu Kartini. Walau tidak melawan penjajah, tidak membawa bambu runcing beserta ketiganya, mereka tetaplah pejuang untuk keluarga dan juga diri sendiri.

Inilah Muthia Avistasari, Fina Melianisa, dan Siti Dyah Ayu Pitaloka, Kartini muda asal Kulon Progo yang hingga detik ini masih berjuang mempertahankan kelayakan perempuan dengan cara mereka masing-masing.

  1. Buat Muthia, Menari Tidak Lagi Sekadar Olah Tubuh. Tapi juga ‘Cinta’ Semenjak Ia Kecil

 

Muthia Avistasari, perempuan usia 20 tahun yang kini tinggal di Siluwok, Temon adalah salah satu perempuan asal Kulon Progo yang masih terus aktif menari hingga sekarang. Berawal dari ketakutan sang Ibu yang melihat sosok Muthia nantinya tumbuh jadi gadis yang tomboy, lantas beliau berinisiatif untuk mendaftarkan Muthia ke dalam sanggar tari. Walau berasal dari permintaan sang Ibu, nyatanya Muthia lantas jatuh cinta dengan tari. Menurutnya, menari tidak hanya bisa menghibur orang yang melihat pertunjukan dirinya, tetapi dengan menari, Muthia pun bisa meluruhkan segala sedih dan lelah.

 “Yang jelas, menari bisa melatih kesabaran dan rasa percaya diri aku.”

Pun dari menari, Muthia bisa mendapatkan banyak hal. Sebut saja seperti pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan juga bisa membawanya berpergian ke luar daerah untuk menampilkan olah tubuh.

Gadis manis ini dengan bangga mengatakan bahwa ia pernah menari dalam acara Asia Tri Jogja 2017 silam dan hal itu membawanya berkolaborasi dengan seniman se-asia. Tidak sampai disitu saja, Muthia juga pernah tampil di depan Bapak Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara pembukaan FKY 2017. Bahkan, ia pernah diminta menjadi penari untuk acara televisi Dahsyat.

Hingga kini, waktu adalah kendala terbesar yang dirasakannya. Walau begitu, Muthia sebisa mungkin terus menari. Karena menari, sudah menjadi sebagian dari hidupnya.

 

  1. Siti Dyah Ayu Pitaloka, Si Hobi Masak yang Berani Berkembang

 

Banyak orang sukses, justru berawal dari hobi, pun seperti halnya Siti Dyah Ayu Pitaloka. Kartini muda yang tinggal di Glagah, Temon ini awalnya hanya menjadikan masak sebagai hobinya. Namun siapa sangka, justru ia menjadi berkembang dan sukses karena hobinya yang satu ini.

Mengaku sudah satu tahun menjalani bisnis makanan cepat saji, Siti Dyah Ayu Pitaloka merasa senang ketika makanan yang disajikannya dinikmati dan disenangi orang lain. Apalagi ketika usaha ‘Captain Chicken’ yang ia dirikan di Margosari, Pengasih, tersebut nyatanya dapat mengalahkan pesaing yang sudah terlebih dahulu dibangun.

Aksara Terkait : Bukan Sekedar Perempuan, tapi Per-empu-an

Usaha yang dibangunnya bukannya tanpa rintangan, Siti Dyah Ayu Pitalokan mengatakan bahwa ia merasa sulit membagu waktu dan melakukan peminjaman uang untuk modal. Namun kendala itu tidak membuatnya patah arah, karena ia selalu berharap bisa terus mengembangkan usahanya.

“Jangan pernah berhenti bermimpi. Persiapkan dengan baik apa yang ingin kita capai”

 

  1. Penyanyi Dangdut yang Selalu Jadi Kebanggaan Kulon Progo, Fina Melianisa

 

Fina Melianisa, mahasiswi IKIP PGRI Wates yang baru-baru ini mengikuti ajang pencarian bakat di Indosiar, Liga Dangdut Indonesia sebagai wakil dari Kabupaten Kulon Progo. Fina bercerita bahwa saat mengikuti audisi untuk acara Liga Dangdut Indonesia ini dia merasa tidak percaya diri karena melihat pesaing-pesaingnya ia nilai lebih baik. Sampai pada akhirnya, ia mendapat berita bahwa ia lolos untuk mewakili daerah Kulon Progo.

Menyadari ia memiliki bakat sejak umur empat tahun, membuat Fina Melianisa terus belajar dan mengolah bakat di bidang bernyanyi. Walau sempat gagal dalam mengikuti beberapa audisi pencarian bakat, Fina tidak pernah merasa gagal dan terus mencoba sampai akhirnya usahanya membawa hasil yang baik. Perempuan cantik satu ini bukan hanya merdu saat menyanyikan lagu-lagu dangdut, namun ia juga piawai bernyanyi lagu dengan genre pop.

Bukti Fina Melianisa adalah perempuan tangguh, ialah dengan keberhasilannya membiayai sekolahnya sendiri. Apalagi setelah ia mengikuti Liga Dangdut Indonesia, tawaran nyanyi untuk dirinya juga semakin mengalir deras.

“Halangan pasti banyak, apalagi godaan. Tapi percaya aja, kalau yang namanya rejeki tidak akan kemana”

Mari belajar dari tiga Kartini muda Kulon progo yang terus gigih membuktikan pada sekitarnya bahwa mereka ‘perempuan dan mampu’ walau banyak halangan yang terus mengejar mereka. Toh, terus berjuang membanggakan kaum perempuan dengan keahlian dan bakat masing-masing, adalah cara berterimakasih paling romantis kepada Ibu Kartini yang sudah memberikan kebebasan bagi kaum perempuan Indonesia.

Aksara Lainnya : Asli Lokal Citarasa Global

Beriklan Disini Beriklan Disini